Kamu
bagaikan kesempurnaan yang menutupi kekuranganku, karna kamu aku jadi bisa
melupakan kesedihan dan masalahku walau hanya sekejap. Jangan tanyakan mengapa,
tapi berfikirlah karna aku menyayangimu.
‘Kevin’
adalah satu nama yang slalu ku ingat, satu nama yang membuatku tersenyum di
pagi hari ketika pertama kali ku buka handphoneku. Satu nama yang bisa
membuatku semangat ketika mendengar namanya. Dan sebentar lagi aku akan
bertunangan dengannya.
Dan
sebut saja aku Windy, seorang mahasiswi di suatu universitas di Jakarta. Dan
bisa dibilang aku ini anak kos, aku tinggal jauh dari orang tua, setiap
bulannya orang tua-ku mengirimkan uang untukku. Begitu pula dengan Kevin, ia
juga sama sepertiku, ia tinggal bersama satu orang sahabat dekatnya yaitu ‘Rendy’.
Aku
adalah orang yang ingin selalu menjagamu dimana pun kamu berada, aku suka
senyummu yang begitu manis dengan lesum dikedua pipimu. Aku suka saat kamu melirikku sambil tersenyum lalu berkata “Lo cantik”. Kamu slalu meledekku dengan
sebutan ‘Cabi’ karna pipiku agak tembem. Tapi walau pipiku agak tembem, aku gak
gemuk kok.
Pagi
itu saat ingin pergi ke kampus, Kevin menjemputku dan ia pasti menyambutku
dengan senyuman lalu tiba-tiba berkata:
“Cepetan cabi ! Lelet banget si lo! Senyam senyum
mulu”. Ucapnya.
“Yehhhh gue kan senyum karna lo senyum pe’a”.
“Ngeliatin gue mulu sih jadi bawaannya pengen
senyum, iye kaaaaaan? Ayo ngaku, ayo ngaku?”. Ucapnya sambil ngeledek.
“Ih Apaan sih, emang pengen banget? wkwk”.
Ucapku.
“Serah lo dah-_-“. Ucapnya agak ngambek.
“Ayo jalan, tar telat”.
“Enggeh ndoro putri”. Ledeknya.
Yah
begitulah Kevin, orangnya sangat menyenangkan, dia humoris, terkadang ada saja
kata-kata aneh yang keluar dari mulutnya sperti ‘Susulalahu’ yang artinya ‘Sungguh
terlalu’. Kata dia sih itu ngikutin cara bicara orang sumbing-_-.
Sesampainya disana…
Kami
berdua pergi ke kantin untuk sarapan bersama. Lalu saat kami duduk, tiba-tiba
ada anak kucing kecil yang sepertinya sedang kebingungan.
“Miaaaaww ,miaaawww”. Kucing kecil yang sedang
menghampiri kami.
“Hay kucing manis ibumu mana?”. Tanya Kevin.
*Aku Cuma tersenyum melihat tingkah Kevin*
“ini makan”. Ucap Kevin sambil mengambil sosis
untuk kucing itu.
“Kok lo baik sih?”.
“Baru tau?”.
Sehabis
memberi makan kucing kecil itu,Kevin bermaksud mencari induknya.
“Sini kucing manis”. Ucap Kevin sambil
menggendong kucing tersebut lalu kami pun pergi.
*aku hanya mengelus kepalanya*
Lalu kami melihat keluarga kucing yang
bersembunyi di balik semak semak yang berada di taman belakang kampus.
“Nah ini ibumu”. Ucap Kevin sambil menaro kucing
itu mendekati ibunya.
“Aaahhhh lucunya”. Ucapku gemas.
“Lo itu harus baik sama kucing, kan kasian dia
hidupnya susah, harus nyari makanan sendiri, belum tentu ada yang mau ngasih
mereka makanan,kalo mereka sakit ga bakal ada yang bawa ke rumah sakit, kalo
sakit kucing itu gak bisa nangis jadi lo itu harus nyontoh kucing karna mereka
kuat, dan gak pernah nyerah”. Ucapnya lalu tersenyum.
“Cieeee cuyungku, bahasanya berat banget si kaya
bakul jamu”. Ledekku
“Yeeehh lo nih, gue kan lagi nasehatin lo, biar
lo kuat dan biar lo gak cengeng”. Ucapnya.
“Iya iya hehe, emang gue cengeng apa?”.
“Lo kan apa-apa nangis, kalo ada luka trus
berdarah dikit langsung nangis”.
“Ya kan itu sakit yang-_-“.
“Itu mah bukan sakit, tapi Lebaaaaaay”. Ucapnya
sambil melet lalu pergi.
“Eh tunggu!!! Kalo gue lebay knapa lo mau jadi
pacar gue? malah mau tunangan lagi”.
“Karna gue....... udah sayang sama lo”. Ucap Kevin
sambil mencubit pipiku.
Aku suka sikapnya yang seperti itu, aku
menyayanginya lebih dari apapun. Hari demi hari banyak hal yang telah kita
lalui bersama dan aku semakin menyayangimu. Dan sebentar lagi aku akan
bertunangan dengannya, orang tua kami pun sudah merestui hubungan kami berdua. Saat
ini aku bersyukur karena kami baik-baik saja.
2 Hari kemudian…
Pagi itu aku kesal, karena teman satu kosan ku yang bernama Riska slalu saja memakai barang-barangku tanpa izin. Rasanya, aku ingin dia keluar dari tempat kosan ini, agar aku bisa tenang. Karena mood down, aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan sejenak bersama Kevin.
"Helo cabiku yang manis kaya cabi merah yang merona". sapanya.
"Cabe woy bukan cabi-_-". Cetusku.
"Oh salah yak?". Ucapnya.
"Huh". Ucapku yang menghela nafas.
Lalu kami pun pergi berdua dengan menaiki motor kesayangan Kevin.
"Hari ini kita mau kemana". Tanyanya.
"Terserah lo aja".
"yaudah".
10 menit kemudian kami berdua sampai di suatu taman, dan kami pun duduk disitu...
"Kok lo diem aja sih dari tadi, sariawan apa nahan boker?". Ucapnya ngeledek.
"Gapapa".
"Ish jutek amat sih, lagi dapet apa?".
"enggak".
"trus knapa? ada masalah?".
"Sdikit".
"kenapa? temen kosan lo ada yang nakal sama lo?".
"Iya, Riska tuh make barang2 gue seenaknya tanpa ijin".
"Weet sah! sabar sayang. Nih mau ga?". Ucap Kevin sambil mengeluarkan sebatang coklat dari kantong jaketnya.
*Cuma ngelirik*
"Mau gak? gausah muna kaya gitu deh, mentang2 lagi sensi, nanti kalo gak dikasih gerutu". Ucapnya sambil melambai-lambaikan coklatnya.
"Sini buat gue". Ucapku yang langsung mengambil coklat dari tangannya.
"Aish cepet banget ngambilnya, senyumnya mana?". Ucapnya.
"*Cuma tersenyum* lalu bilang "Makasi coklatnyaaaa". ketusku.
"Nah gitu dong kan cakep". Ledeknya.
Entah kenapa kalau didekatnya itu perasaanku menjadi nyaman dalam sekejap, semua masalah bisa terlupakan, aku senang bisa membuatnya tersenyum karena tingkah konyolku, seseorang akan mengorbankan sesuatu demi untuk mendapatkan sesuatu tersebut, begitu pula dengan aku, aku akan mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan cintamu.
1 Minggu kemudian...
Pagi itu aku kesal, karena teman satu kosan ku yang bernama Riska slalu saja memakai barang-barangku tanpa izin. Rasanya, aku ingin dia keluar dari tempat kosan ini, agar aku bisa tenang. Karena mood down, aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan sejenak bersama Kevin.
"Helo cabiku yang manis kaya cabi merah yang merona". sapanya.
"Cabe woy bukan cabi-_-". Cetusku.
"Oh salah yak?". Ucapnya.
"Huh". Ucapku yang menghela nafas.
Lalu kami pun pergi berdua dengan menaiki motor kesayangan Kevin.
"Hari ini kita mau kemana". Tanyanya.
"Terserah lo aja".
"yaudah".
10 menit kemudian kami berdua sampai di suatu taman, dan kami pun duduk disitu...
"Kok lo diem aja sih dari tadi, sariawan apa nahan boker?". Ucapnya ngeledek.
"Gapapa".
"Ish jutek amat sih, lagi dapet apa?".
"enggak".
"trus knapa? ada masalah?".
"Sdikit".
"kenapa? temen kosan lo ada yang nakal sama lo?".
"Iya, Riska tuh make barang2 gue seenaknya tanpa ijin".
"Weet sah! sabar sayang. Nih mau ga?". Ucap Kevin sambil mengeluarkan sebatang coklat dari kantong jaketnya.
*Cuma ngelirik*
"Mau gak? gausah muna kaya gitu deh, mentang2 lagi sensi, nanti kalo gak dikasih gerutu". Ucapnya sambil melambai-lambaikan coklatnya.
"Sini buat gue". Ucapku yang langsung mengambil coklat dari tangannya.
"Aish cepet banget ngambilnya, senyumnya mana?". Ucapnya.
"*Cuma tersenyum* lalu bilang "Makasi coklatnyaaaa". ketusku.
"Nah gitu dong kan cakep". Ledeknya.
Entah kenapa kalau didekatnya itu perasaanku menjadi nyaman dalam sekejap, semua masalah bisa terlupakan, aku senang bisa membuatnya tersenyum karena tingkah konyolku, seseorang akan mengorbankan sesuatu demi untuk mendapatkan sesuatu tersebut, begitu pula dengan aku, aku akan mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan cintamu.
1 Minggu kemudian...
Pagi
itu tanggal 8 November, Kevin berniat untuk pergi kerumahku dengan temannya
Rendy. kevin membawa cincin tunangannya dan Mereka menaiki sepeda motornya masing-masing.
“Lelet lo banci”. Ucap Kevin ngeledek.
“Songong lo-_-“. Ucap Rendy.
Tak
disangka saat Rendy dan Kevin melewati tikungan, tiba-tiba ada mobil yang
melaju kencang dari arah yang berlawanan. Mobil itu menabrak motor Kevin dengan
sangat kencang sampai Kevin terpental sejauh 5 meter, Kevin mengalami luka yang
sangat parah. Setengah wajahnya sudah hancur dan Darah dari kepalanya mulai membasahi jalan. Jalanan pun mulai
macet,polisi pun mulai hadir. Rendy pun mencoba menolong Kevin.
“Anjrit! kenapa bisa kaya gini!". Ucap rendy yang kaget ketika melihat wajah Kevin yang sebagian hancur.
"Kev , Lo harus bertahan, gue bakal nolongin lo!”. Ucap Rendy.
Tiba tiba Kevin melontarkan suatu kata-kata dengan perlahan.
"Kev , Lo harus bertahan, gue bakal nolongin lo!”. Ucap Rendy.
Tiba tiba Kevin melontarkan suatu kata-kata dengan perlahan.
"Ren, kalo misalnya gue mati nanti, tolong jagain Windy ya......
"gue sayang banget sama dia......." Nafas Kevin mulai terengah2.
"kalo perlu lo jadiin aja dia pacar lo". Ucap Kevin sambil terengah-engah.
"gue sayang banget sama dia......." Nafas Kevin mulai terengah2.
"kalo perlu lo jadiin aja dia pacar lo". Ucap Kevin sambil terengah-engah.
"Tapi kev, dia cewe lo, gue ga ..............
"Ren plisss, gue ga mau liat dia sedih... itu permintaan gue yang terakir". Ucap Kevin.
Rendy langsung membawa Kevin kerumah sakit, dia langsung menghubungi keluarga Kevin. Satu persatu keluarga Kevin pun datang. saat dokter keluar dari ruangan Kevin, semua keluarga telah menunggu kepastian dokter. Tapi tiba-tiba dokter bilang "Saya tidak bisa menyelamatkan pasien ini, lukanya sudah terlalu parah,dan dia sudah tidak bisa bernafas lagi".
"Win?". Saat Rendy menelpon .
"Lo dimana? kok lama banget? Kevin mana?". Tanyaku.
"Ehm sorry Win, gue sama Kevin kecelakaan".
"Ha? kok bisa? trus keadaan kevin gimana? Sekarang lo dirumah sakit mana?".
Rendy pun memberi tahu alamat rumah sakit tersebut kepadaku, saat aku datang, banyak saudara Kevin yang telah hadir, mereka mengeluarkan air mata.
"Ren , Kevin mana? gue mau liat dia!". Ucapku yang baru saja datang.
"Windy sayang, yang sabar ya nak, tante juga sedih". Ucap mama Kevin yang tiba-tiba memelukku.
"Sebenernya kenapa tante?". Ucapku yang sangat penasaran.
"Kevin .............. dia............. udah ninggalin tante!". Ucap Mama Kevin sambil menangis.
"Enggak tante, pasti gak mungkin! ini semua gak mungkin kan Ren, pliss jujur ke gue!". Ucapku
"Win, sorry tapi............. Kevin udah gak ada, dia udah ninggalin kita.".
"Tapi Ren dikit lagi gue tunangan sama dia!!!". Bentakku.
Lalu Rendy mengajakku ke ruang mayat unuk melihat kondisi Kevin. Dengan penuh darah, aku tidak begitu jelas melihatnya, aku hanya melihat jam tangan yang pernah kuberikan untukknya saat dia ulang tahun satu tahun yang lalu. Dan Rendy memberiku cincin, dia bilang "Itu cincin yang mau Kevin kasih buat lo".
Aku langsung menangis dan tidak percaya dengan apa yang kulihat.
"Ini pasti bukan Kevin, pasti ini bukan dia!". Bentakku.
"Lo harus bisa nerima kenyataan Win, biar Kevin bisa tenang disana". Ucap Rendy.
Setelah itu keluarganya memakamkan Kevin. Aku hanya menangis dan masih shock. Padahal akhir-akhir ini aku dan dia tidak ada masalah sedikitpun, tapi kenapa tuhan berkehendak lain?. Apakah KAU tidak mengizinkanku untuk tetap bersamanya?.
*saat dipemakaman*
"Kev, bangun sayang, kita kan mau tunangan, kenapa lo ninggalin gue?". Ucapku sambil menangisi kepergiannya.
"Udah win, lo harus ikhlas".
"Tapi Ren, gue gak rela, gue sayang dia, lo gak tau kan perasaan gue kaya apa?".
*Hanya terdiam*
3 Hari kemudian.......
Sejak Kevin pergi, Rendy seperti menggantikan Kevin, dia yang selalu menjagaku hingga saat ini. Pagi itu saat aku ingin pergi menuju kampus...
"Eh Rendy, kok lo yang jemput, Kevin mana?". Ucapku tanpa sadar.
"Kevin kan udah gak ada win.......udah ya".
"Oh udah gak ada ya, gue lupa......Ren?".
"Iya?".
"Kenapa sih Kevin ninggalin gue? Apa dia udah gak sayang sama gue ya? Gue kangen dia, skarang kalo gue kangen, gue harus berbuat apa? Gue mau liat senyumnya,gue kangen kata-katanya, gue mau jalan-jalan sama Kevin kaya dulu lagi Ren,apa........... udah ga bisa ya?" Ucapku sambil menunduk.
"Lo jangan sedih Win, Kevin gak rela kalo liat lu nangis kaya gini". Ucap rendy.
"Tapi gue juga ga rela kalo Kevin udah gak ada!".
"Kalo lo ikhlas, dia pasti seneng diatas sana".
*Hanya diam dengan sesekali menatap wajah Rendy lalu berkata:
"Kevin pernah bilang, gue harus kuat kaya kucing kecil yang pernah kita temuin di kampus, tapi..........gue bukan kucing, gue ga bisa kuat! gue cuma cewe cengeng yang bisanya cuma nangisin kepergiannya doang !".
*Rendy hanya mengusap kepalaku*
"Gue mau ketemu Kevin..........
Aku hanya bisa mengenangnya lewat foto, aku ingat saat kau bilang "Cepet cabi! lelet banget si lo!" Aku ingat saat kau bilang "senyumnya mana?" aku ingat semua kata yang kau ucapkan, gak ada lagi yang ngomong 'Susulalahu'. dan aku rindu senyummu, senyum yang selalu berhasil membuatku senang. Sekarang kamu kemana? kamu pergi meninggalkanku begitu saja, aku rindu saat kamu bilang 'Gue sayang lo'.
Apa yang bisa ku lakukan saat ini? tak banyak yang bisa membuatku senang. Aku ingin dia berada disampingku. Maafkan aku jika senyumku bersembunyi dibalik air mata ini. Aku tak bisa menahannya.
Hari demi hari pun berlalu, aku masih terlarut dalam kesedihanku, sementara rendy selalu menjagaku hingga saat ini. Saat itu, saat aku pergi ketaman ke tempat dimana dulu saat aku dan Kevin bersama,tiba tiba Rendy berkata :
"Apa yang harus gue lakuin biar lo bisa senyum lagi? bukannya dulu lo slalu ceria?".
*sambil menunduk lalu berkata : Gue gapapa, tapi bayangannya masih melekat di pikiran gue".
"Ijinin gue buat ngembaliin senyum lo yang dulu, gue gak sanggup ngeliat lo kaya gini! Gue mohon! jangan bilang enggak". Ucap Rendy
*hanya diam, sesekali menatap wajah Rendy*
'Tuhan dimana cintaku sekarang? apa ini benar takdir-Mu? aku merindukannya. Ini seakan2 "Cintaku memberikan cinta untukku". Yang berarti Kevin memberikan Rendy untukku'. Gumamku.
Aku tidak bisa terlarut dalam kesedihan yang lebih dalam, aku berfikir untuk menerima Rendy didalam kehidupanku, dan mencoba untuk melupakan DIA.
3 Bulan kemudian.....
Walau aku sudah menjalin hubungan dengannya, tapi sesekali aku masih mengingat bayangannya.
*Siang itu.........
"Ren , maaf gue masih keinget Kevin, gue gak maksud buat nyakitin lo tapi.............Gue sayang dia, gue kangen, gue pengen ketemu dia, Gue suka semua yang ada didiri Kevin, gue suka cara dia ngelirik gue sambil tersenyum, gue mau ketemu dia Ren, gue pengen meluk dia, seandainya waktu itu kalian gak usah kerumah gue, pasti kejadiannya ga bkal kaya gini, tiap gue liat cincin ini, gue pasti inget dia".
"Gue sadar selama ini lo masih butuh Kevin, Lo masih sayang dia dan gak bisa lupain dia!".
"Makasi Ren , udah mau ngerti".
"Ikut gue yuk sekarang!".
Lalu Rendy membawaku ke tempat yang belum aku kenal, walaupun jaraknya dekat, tapi aku tidak tahu daerah sini. dan Rendy mengantarku ke suatu rumah yang kecil dan sedikit kumuh. Aku dan Rendy memasuki rumah itu. Disana ada pria dengan muka setengah hancur sedang duduk dikursi roda yang sepertinya kaget dengan kedatangan kami, aku sedikit takut melihatnya, namun tiba-tiba saja dia tersenyum. Karena setengah wajahnya normal, terlihat satu lesum dipipinya, itu mengingatkanku dengan Kevin. Tiba-tiba saja aku menangis.
Dan tiba-tiba Rendy mendekati orang itu sambil berkata : "Ada yang kangen sama lo".
Aku sedikit bingung kenapa tiba-tiba Rendy mengucapkan hal itu.
"Kenalin ini Kevin Syahrial Pratama". Ucap Rendy sambil tersenyum.
Aku hanya kaget mendengar namanya, namanya seperti nama panjang Kevin. Lalu dia tersenyum untuk yang kedua kalinya, dan aku mulai menangis.
"Hay Windy, udah lama ga ketemu". Ucapnya
"Lo kevin! Tapi........... kenapa? bukannya lo udah................
"Pas kecelakaan itu gue emang sekarat, tapi gue gak mati, gue pesen ke dokter dan rendy biar kalian semua taunya gue mati". Ucap Kevin menjelaskan.
"Tapi............. kenapa lo lakuin ini semua vin , gue sedih banget waktu kehilangan lo". Ucapku.
"Maafin gue win, lo liatkan keadaan gue yang sekarang? gue cacat, gue udah gak sempurna lagi buat lo, jadi gue suruh Rendy biar dia bisa bikin lo bahagia dan skarang lo bisa pilih cowok yang lo suka, yang lebih sempurna dari gue". Ucap Kevin sambil membuang muka.
"Tapi nyatanya, gue ga bisa sayang sama Rendy, gue sayang sama lo, walaupun lo kaya gini, gue tetep sayang sama lo". Ucapku sambil meluk Kevin
"Gue seneng punya cewe kaya lo". Ucap Kevin.
Aku menyayangimu lebih dari apapun, aku akan menerima segala kekuranganmu.
Kita hanya jatuh cinta, tak ada salahnya bukan ? Ataukah cerita kita ini bukan kisah cinta? kita hanya perlu percaya, kita diciptakan untuk terus bersama, begitulah yang dijanjikan sebuah kisah cinta.
Sebut namaku, aku hanya ingin mendengarmu, sebut namaku, agar aku tau itu benar kamu, kamu mengubahku, jadi katakanlah:
"Aku hanya tidak ingin kehilanganmu"
"Ha? kok bisa? trus keadaan kevin gimana? Sekarang lo dirumah sakit mana?".
Rendy pun memberi tahu alamat rumah sakit tersebut kepadaku, saat aku datang, banyak saudara Kevin yang telah hadir, mereka mengeluarkan air mata.
"Ren , Kevin mana? gue mau liat dia!". Ucapku yang baru saja datang.
"Windy sayang, yang sabar ya nak, tante juga sedih". Ucap mama Kevin yang tiba-tiba memelukku.
"Sebenernya kenapa tante?". Ucapku yang sangat penasaran.
"Kevin .............. dia............. udah ninggalin tante!". Ucap Mama Kevin sambil menangis.
"Enggak tante, pasti gak mungkin! ini semua gak mungkin kan Ren, pliss jujur ke gue!". Ucapku
"Win, sorry tapi............. Kevin udah gak ada, dia udah ninggalin kita.".
"Tapi Ren dikit lagi gue tunangan sama dia!!!". Bentakku.
Lalu Rendy mengajakku ke ruang mayat unuk melihat kondisi Kevin. Dengan penuh darah, aku tidak begitu jelas melihatnya, aku hanya melihat jam tangan yang pernah kuberikan untukknya saat dia ulang tahun satu tahun yang lalu. Dan Rendy memberiku cincin, dia bilang "Itu cincin yang mau Kevin kasih buat lo".
Aku langsung menangis dan tidak percaya dengan apa yang kulihat.
"Ini pasti bukan Kevin, pasti ini bukan dia!". Bentakku.
"Lo harus bisa nerima kenyataan Win, biar Kevin bisa tenang disana". Ucap Rendy.
Setelah itu keluarganya memakamkan Kevin. Aku hanya menangis dan masih shock. Padahal akhir-akhir ini aku dan dia tidak ada masalah sedikitpun, tapi kenapa tuhan berkehendak lain?. Apakah KAU tidak mengizinkanku untuk tetap bersamanya?.
*saat dipemakaman*
"Kev, bangun sayang, kita kan mau tunangan, kenapa lo ninggalin gue?". Ucapku sambil menangisi kepergiannya.
"Udah win, lo harus ikhlas".
"Tapi Ren, gue gak rela, gue sayang dia, lo gak tau kan perasaan gue kaya apa?".
*Hanya terdiam*
3 Hari kemudian.......
Sejak Kevin pergi, Rendy seperti menggantikan Kevin, dia yang selalu menjagaku hingga saat ini. Pagi itu saat aku ingin pergi menuju kampus...
"Eh Rendy, kok lo yang jemput, Kevin mana?". Ucapku tanpa sadar.
"Kevin kan udah gak ada win.......udah ya".
"Oh udah gak ada ya, gue lupa......Ren?".
"Iya?".
"Kenapa sih Kevin ninggalin gue? Apa dia udah gak sayang sama gue ya? Gue kangen dia, skarang kalo gue kangen, gue harus berbuat apa? Gue mau liat senyumnya,gue kangen kata-katanya, gue mau jalan-jalan sama Kevin kaya dulu lagi Ren,apa........... udah ga bisa ya?" Ucapku sambil menunduk.
"Lo jangan sedih Win, Kevin gak rela kalo liat lu nangis kaya gini". Ucap rendy.
"Tapi gue juga ga rela kalo Kevin udah gak ada!".
"Kalo lo ikhlas, dia pasti seneng diatas sana".
*Hanya diam dengan sesekali menatap wajah Rendy lalu berkata:
"Kevin pernah bilang, gue harus kuat kaya kucing kecil yang pernah kita temuin di kampus, tapi..........gue bukan kucing, gue ga bisa kuat! gue cuma cewe cengeng yang bisanya cuma nangisin kepergiannya doang !".
*Rendy hanya mengusap kepalaku*
"Gue mau ketemu Kevin..........
Aku hanya bisa mengenangnya lewat foto, aku ingat saat kau bilang "Cepet cabi! lelet banget si lo!" Aku ingat saat kau bilang "senyumnya mana?" aku ingat semua kata yang kau ucapkan, gak ada lagi yang ngomong 'Susulalahu'. dan aku rindu senyummu, senyum yang selalu berhasil membuatku senang. Sekarang kamu kemana? kamu pergi meninggalkanku begitu saja, aku rindu saat kamu bilang 'Gue sayang lo'.
Apa yang bisa ku lakukan saat ini? tak banyak yang bisa membuatku senang. Aku ingin dia berada disampingku. Maafkan aku jika senyumku bersembunyi dibalik air mata ini. Aku tak bisa menahannya.
Hari demi hari pun berlalu, aku masih terlarut dalam kesedihanku, sementara rendy selalu menjagaku hingga saat ini. Saat itu, saat aku pergi ketaman ke tempat dimana dulu saat aku dan Kevin bersama,tiba tiba Rendy berkata :
"Apa yang harus gue lakuin biar lo bisa senyum lagi? bukannya dulu lo slalu ceria?".
*sambil menunduk lalu berkata : Gue gapapa, tapi bayangannya masih melekat di pikiran gue".
"Ijinin gue buat ngembaliin senyum lo yang dulu, gue gak sanggup ngeliat lo kaya gini! Gue mohon! jangan bilang enggak". Ucap Rendy
*hanya diam, sesekali menatap wajah Rendy*
'Tuhan dimana cintaku sekarang? apa ini benar takdir-Mu? aku merindukannya. Ini seakan2 "Cintaku memberikan cinta untukku". Yang berarti Kevin memberikan Rendy untukku'. Gumamku.
Aku tidak bisa terlarut dalam kesedihan yang lebih dalam, aku berfikir untuk menerima Rendy didalam kehidupanku, dan mencoba untuk melupakan DIA.
********************************************
Walau aku sudah menjalin hubungan dengannya, tapi sesekali aku masih mengingat bayangannya.
*Siang itu.........
"Ren , maaf gue masih keinget Kevin, gue gak maksud buat nyakitin lo tapi.............Gue sayang dia, gue kangen, gue pengen ketemu dia, Gue suka semua yang ada didiri Kevin, gue suka cara dia ngelirik gue sambil tersenyum, gue mau ketemu dia Ren, gue pengen meluk dia, seandainya waktu itu kalian gak usah kerumah gue, pasti kejadiannya ga bkal kaya gini, tiap gue liat cincin ini, gue pasti inget dia".
"Gue sadar selama ini lo masih butuh Kevin, Lo masih sayang dia dan gak bisa lupain dia!".
"Makasi Ren , udah mau ngerti".
"Ikut gue yuk sekarang!".
Lalu Rendy membawaku ke tempat yang belum aku kenal, walaupun jaraknya dekat, tapi aku tidak tahu daerah sini. dan Rendy mengantarku ke suatu rumah yang kecil dan sedikit kumuh. Aku dan Rendy memasuki rumah itu. Disana ada pria dengan muka setengah hancur sedang duduk dikursi roda yang sepertinya kaget dengan kedatangan kami, aku sedikit takut melihatnya, namun tiba-tiba saja dia tersenyum. Karena setengah wajahnya normal, terlihat satu lesum dipipinya, itu mengingatkanku dengan Kevin. Tiba-tiba saja aku menangis.
Dan tiba-tiba Rendy mendekati orang itu sambil berkata : "Ada yang kangen sama lo".
Aku sedikit bingung kenapa tiba-tiba Rendy mengucapkan hal itu.
"Kenalin ini Kevin Syahrial Pratama". Ucap Rendy sambil tersenyum.
Aku hanya kaget mendengar namanya, namanya seperti nama panjang Kevin. Lalu dia tersenyum untuk yang kedua kalinya, dan aku mulai menangis.
"Hay Windy, udah lama ga ketemu". Ucapnya
"Lo kevin! Tapi........... kenapa? bukannya lo udah................
"Pas kecelakaan itu gue emang sekarat, tapi gue gak mati, gue pesen ke dokter dan rendy biar kalian semua taunya gue mati". Ucap Kevin menjelaskan.
"Tapi............. kenapa lo lakuin ini semua vin , gue sedih banget waktu kehilangan lo". Ucapku.
"Maafin gue win, lo liatkan keadaan gue yang sekarang? gue cacat, gue udah gak sempurna lagi buat lo, jadi gue suruh Rendy biar dia bisa bikin lo bahagia dan skarang lo bisa pilih cowok yang lo suka, yang lebih sempurna dari gue". Ucap Kevin sambil membuang muka.
"Tapi nyatanya, gue ga bisa sayang sama Rendy, gue sayang sama lo, walaupun lo kaya gini, gue tetep sayang sama lo". Ucapku sambil meluk Kevin
"Gue seneng punya cewe kaya lo". Ucap Kevin.
Aku menyayangimu lebih dari apapun, aku akan menerima segala kekuranganmu.
Kita hanya jatuh cinta, tak ada salahnya bukan ? Ataukah cerita kita ini bukan kisah cinta? kita hanya perlu percaya, kita diciptakan untuk terus bersama, begitulah yang dijanjikan sebuah kisah cinta.
Sebut namaku, aku hanya ingin mendengarmu, sebut namaku, agar aku tau itu benar kamu, kamu mengubahku, jadi katakanlah:
"Aku hanya tidak ingin kehilanganmu"
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar