Meina Blog
Jumat, 15 Februari 2013
Kamis, 27 Desember 2012
"Cintaku, memberikan cinta untukku"
Kamu
bagaikan kesempurnaan yang menutupi kekuranganku, karna kamu aku jadi bisa
melupakan kesedihan dan masalahku walau hanya sekejap. Jangan tanyakan mengapa,
tapi berfikirlah karna aku menyayangimu.
‘Kevin’
adalah satu nama yang slalu ku ingat, satu nama yang membuatku tersenyum di
pagi hari ketika pertama kali ku buka handphoneku. Satu nama yang bisa
membuatku semangat ketika mendengar namanya. Dan sebentar lagi aku akan
bertunangan dengannya.
Dan
sebut saja aku Windy, seorang mahasiswi di suatu universitas di Jakarta. Dan
bisa dibilang aku ini anak kos, aku tinggal jauh dari orang tua, setiap
bulannya orang tua-ku mengirimkan uang untukku. Begitu pula dengan Kevin, ia
juga sama sepertiku, ia tinggal bersama satu orang sahabat dekatnya yaitu ‘Rendy’.
Aku
adalah orang yang ingin selalu menjagamu dimana pun kamu berada, aku suka
senyummu yang begitu manis dengan lesum dikedua pipimu. Aku suka saat kamu melirikku sambil tersenyum lalu berkata “Lo cantik”. Kamu slalu meledekku dengan
sebutan ‘Cabi’ karna pipiku agak tembem. Tapi walau pipiku agak tembem, aku gak
gemuk kok.
Pagi
itu saat ingin pergi ke kampus, Kevin menjemputku dan ia pasti menyambutku
dengan senyuman lalu tiba-tiba berkata:
“Cepetan cabi ! Lelet banget si lo! Senyam senyum
mulu”. Ucapnya.
“Yehhhh gue kan senyum karna lo senyum pe’a”.
“Ngeliatin gue mulu sih jadi bawaannya pengen
senyum, iye kaaaaaan? Ayo ngaku, ayo ngaku?”. Ucapnya sambil ngeledek.
“Ih Apaan sih, emang pengen banget? wkwk”.
Ucapku.
“Serah lo dah-_-“. Ucapnya agak ngambek.
“Ayo jalan, tar telat”.
“Enggeh ndoro putri”. Ledeknya.
Yah
begitulah Kevin, orangnya sangat menyenangkan, dia humoris, terkadang ada saja
kata-kata aneh yang keluar dari mulutnya sperti ‘Susulalahu’ yang artinya ‘Sungguh
terlalu’. Kata dia sih itu ngikutin cara bicara orang sumbing-_-.
Sesampainya disana…
Kami
berdua pergi ke kantin untuk sarapan bersama. Lalu saat kami duduk, tiba-tiba
ada anak kucing kecil yang sepertinya sedang kebingungan.
“Miaaaaww ,miaaawww”. Kucing kecil yang sedang
menghampiri kami.
“Hay kucing manis ibumu mana?”. Tanya Kevin.
*Aku Cuma tersenyum melihat tingkah Kevin*
“ini makan”. Ucap Kevin sambil mengambil sosis
untuk kucing itu.
“Kok lo baik sih?”.
“Baru tau?”.
Sehabis
memberi makan kucing kecil itu,Kevin bermaksud mencari induknya.
“Sini kucing manis”. Ucap Kevin sambil
menggendong kucing tersebut lalu kami pun pergi.
*aku hanya mengelus kepalanya*
Lalu kami melihat keluarga kucing yang
bersembunyi di balik semak semak yang berada di taman belakang kampus.
“Nah ini ibumu”. Ucap Kevin sambil menaro kucing
itu mendekati ibunya.
“Aaahhhh lucunya”. Ucapku gemas.
“Lo itu harus baik sama kucing, kan kasian dia
hidupnya susah, harus nyari makanan sendiri, belum tentu ada yang mau ngasih
mereka makanan,kalo mereka sakit ga bakal ada yang bawa ke rumah sakit, kalo
sakit kucing itu gak bisa nangis jadi lo itu harus nyontoh kucing karna mereka
kuat, dan gak pernah nyerah”. Ucapnya lalu tersenyum.
“Cieeee cuyungku, bahasanya berat banget si kaya
bakul jamu”. Ledekku
“Yeeehh lo nih, gue kan lagi nasehatin lo, biar
lo kuat dan biar lo gak cengeng”. Ucapnya.
“Iya iya hehe, emang gue cengeng apa?”.
“Lo kan apa-apa nangis, kalo ada luka trus
berdarah dikit langsung nangis”.
“Ya kan itu sakit yang-_-“.
“Itu mah bukan sakit, tapi Lebaaaaaay”. Ucapnya
sambil melet lalu pergi.
“Eh tunggu!!! Kalo gue lebay knapa lo mau jadi
pacar gue? malah mau tunangan lagi”.
“Karna gue....... udah sayang sama lo”. Ucap Kevin
sambil mencubit pipiku.
Aku suka sikapnya yang seperti itu, aku
menyayanginya lebih dari apapun. Hari demi hari banyak hal yang telah kita
lalui bersama dan aku semakin menyayangimu. Dan sebentar lagi aku akan
bertunangan dengannya, orang tua kami pun sudah merestui hubungan kami berdua. Saat
ini aku bersyukur karena kami baik-baik saja.
2 Hari kemudian…
Pagi itu aku kesal, karena teman satu kosan ku yang bernama Riska slalu saja memakai barang-barangku tanpa izin. Rasanya, aku ingin dia keluar dari tempat kosan ini, agar aku bisa tenang. Karena mood down, aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan sejenak bersama Kevin.
"Helo cabiku yang manis kaya cabi merah yang merona". sapanya.
"Cabe woy bukan cabi-_-". Cetusku.
"Oh salah yak?". Ucapnya.
"Huh". Ucapku yang menghela nafas.
Lalu kami pun pergi berdua dengan menaiki motor kesayangan Kevin.
"Hari ini kita mau kemana". Tanyanya.
"Terserah lo aja".
"yaudah".
10 menit kemudian kami berdua sampai di suatu taman, dan kami pun duduk disitu...
"Kok lo diem aja sih dari tadi, sariawan apa nahan boker?". Ucapnya ngeledek.
"Gapapa".
"Ish jutek amat sih, lagi dapet apa?".
"enggak".
"trus knapa? ada masalah?".
"Sdikit".
"kenapa? temen kosan lo ada yang nakal sama lo?".
"Iya, Riska tuh make barang2 gue seenaknya tanpa ijin".
"Weet sah! sabar sayang. Nih mau ga?". Ucap Kevin sambil mengeluarkan sebatang coklat dari kantong jaketnya.
*Cuma ngelirik*
"Mau gak? gausah muna kaya gitu deh, mentang2 lagi sensi, nanti kalo gak dikasih gerutu". Ucapnya sambil melambai-lambaikan coklatnya.
"Sini buat gue". Ucapku yang langsung mengambil coklat dari tangannya.
"Aish cepet banget ngambilnya, senyumnya mana?". Ucapnya.
"*Cuma tersenyum* lalu bilang "Makasi coklatnyaaaa". ketusku.
"Nah gitu dong kan cakep". Ledeknya.
Entah kenapa kalau didekatnya itu perasaanku menjadi nyaman dalam sekejap, semua masalah bisa terlupakan, aku senang bisa membuatnya tersenyum karena tingkah konyolku, seseorang akan mengorbankan sesuatu demi untuk mendapatkan sesuatu tersebut, begitu pula dengan aku, aku akan mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan cintamu.
1 Minggu kemudian...
Pagi itu aku kesal, karena teman satu kosan ku yang bernama Riska slalu saja memakai barang-barangku tanpa izin. Rasanya, aku ingin dia keluar dari tempat kosan ini, agar aku bisa tenang. Karena mood down, aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan sejenak bersama Kevin.
"Helo cabiku yang manis kaya cabi merah yang merona". sapanya.
"Cabe woy bukan cabi-_-". Cetusku.
"Oh salah yak?". Ucapnya.
"Huh". Ucapku yang menghela nafas.
Lalu kami pun pergi berdua dengan menaiki motor kesayangan Kevin.
"Hari ini kita mau kemana". Tanyanya.
"Terserah lo aja".
"yaudah".
10 menit kemudian kami berdua sampai di suatu taman, dan kami pun duduk disitu...
"Kok lo diem aja sih dari tadi, sariawan apa nahan boker?". Ucapnya ngeledek.
"Gapapa".
"Ish jutek amat sih, lagi dapet apa?".
"enggak".
"trus knapa? ada masalah?".
"Sdikit".
"kenapa? temen kosan lo ada yang nakal sama lo?".
"Iya, Riska tuh make barang2 gue seenaknya tanpa ijin".
"Weet sah! sabar sayang. Nih mau ga?". Ucap Kevin sambil mengeluarkan sebatang coklat dari kantong jaketnya.
*Cuma ngelirik*
"Mau gak? gausah muna kaya gitu deh, mentang2 lagi sensi, nanti kalo gak dikasih gerutu". Ucapnya sambil melambai-lambaikan coklatnya.
"Sini buat gue". Ucapku yang langsung mengambil coklat dari tangannya.
"Aish cepet banget ngambilnya, senyumnya mana?". Ucapnya.
"*Cuma tersenyum* lalu bilang "Makasi coklatnyaaaa". ketusku.
"Nah gitu dong kan cakep". Ledeknya.
Entah kenapa kalau didekatnya itu perasaanku menjadi nyaman dalam sekejap, semua masalah bisa terlupakan, aku senang bisa membuatnya tersenyum karena tingkah konyolku, seseorang akan mengorbankan sesuatu demi untuk mendapatkan sesuatu tersebut, begitu pula dengan aku, aku akan mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan cintamu.
1 Minggu kemudian...
Pagi
itu tanggal 8 November, Kevin berniat untuk pergi kerumahku dengan temannya
Rendy. kevin membawa cincin tunangannya dan Mereka menaiki sepeda motornya masing-masing.
“Lelet lo banci”. Ucap Kevin ngeledek.
“Songong lo-_-“. Ucap Rendy.
Tak
disangka saat Rendy dan Kevin melewati tikungan, tiba-tiba ada mobil yang
melaju kencang dari arah yang berlawanan. Mobil itu menabrak motor Kevin dengan
sangat kencang sampai Kevin terpental sejauh 5 meter, Kevin mengalami luka yang
sangat parah. Setengah wajahnya sudah hancur dan Darah dari kepalanya mulai membasahi jalan. Jalanan pun mulai
macet,polisi pun mulai hadir. Rendy pun mencoba menolong Kevin.
“Anjrit! kenapa bisa kaya gini!". Ucap rendy yang kaget ketika melihat wajah Kevin yang sebagian hancur.
"Kev , Lo harus bertahan, gue bakal nolongin lo!”. Ucap Rendy.
Tiba tiba Kevin melontarkan suatu kata-kata dengan perlahan.
"Kev , Lo harus bertahan, gue bakal nolongin lo!”. Ucap Rendy.
Tiba tiba Kevin melontarkan suatu kata-kata dengan perlahan.
"Ren, kalo misalnya gue mati nanti, tolong jagain Windy ya......
"gue sayang banget sama dia......." Nafas Kevin mulai terengah2.
"kalo perlu lo jadiin aja dia pacar lo". Ucap Kevin sambil terengah-engah.
"gue sayang banget sama dia......." Nafas Kevin mulai terengah2.
"kalo perlu lo jadiin aja dia pacar lo". Ucap Kevin sambil terengah-engah.
"Tapi kev, dia cewe lo, gue ga ..............
"Ren plisss, gue ga mau liat dia sedih... itu permintaan gue yang terakir". Ucap Kevin.
Rendy langsung membawa Kevin kerumah sakit, dia langsung menghubungi keluarga Kevin. Satu persatu keluarga Kevin pun datang. saat dokter keluar dari ruangan Kevin, semua keluarga telah menunggu kepastian dokter. Tapi tiba-tiba dokter bilang "Saya tidak bisa menyelamatkan pasien ini, lukanya sudah terlalu parah,dan dia sudah tidak bisa bernafas lagi".
"Win?". Saat Rendy menelpon .
"Lo dimana? kok lama banget? Kevin mana?". Tanyaku.
"Ehm sorry Win, gue sama Kevin kecelakaan".
"Ha? kok bisa? trus keadaan kevin gimana? Sekarang lo dirumah sakit mana?".
Rendy pun memberi tahu alamat rumah sakit tersebut kepadaku, saat aku datang, banyak saudara Kevin yang telah hadir, mereka mengeluarkan air mata.
"Ren , Kevin mana? gue mau liat dia!". Ucapku yang baru saja datang.
"Windy sayang, yang sabar ya nak, tante juga sedih". Ucap mama Kevin yang tiba-tiba memelukku.
"Sebenernya kenapa tante?". Ucapku yang sangat penasaran.
"Kevin .............. dia............. udah ninggalin tante!". Ucap Mama Kevin sambil menangis.
"Enggak tante, pasti gak mungkin! ini semua gak mungkin kan Ren, pliss jujur ke gue!". Ucapku
"Win, sorry tapi............. Kevin udah gak ada, dia udah ninggalin kita.".
"Tapi Ren dikit lagi gue tunangan sama dia!!!". Bentakku.
Lalu Rendy mengajakku ke ruang mayat unuk melihat kondisi Kevin. Dengan penuh darah, aku tidak begitu jelas melihatnya, aku hanya melihat jam tangan yang pernah kuberikan untukknya saat dia ulang tahun satu tahun yang lalu. Dan Rendy memberiku cincin, dia bilang "Itu cincin yang mau Kevin kasih buat lo".
Aku langsung menangis dan tidak percaya dengan apa yang kulihat.
"Ini pasti bukan Kevin, pasti ini bukan dia!". Bentakku.
"Lo harus bisa nerima kenyataan Win, biar Kevin bisa tenang disana". Ucap Rendy.
Setelah itu keluarganya memakamkan Kevin. Aku hanya menangis dan masih shock. Padahal akhir-akhir ini aku dan dia tidak ada masalah sedikitpun, tapi kenapa tuhan berkehendak lain?. Apakah KAU tidak mengizinkanku untuk tetap bersamanya?.
*saat dipemakaman*
"Kev, bangun sayang, kita kan mau tunangan, kenapa lo ninggalin gue?". Ucapku sambil menangisi kepergiannya.
"Udah win, lo harus ikhlas".
"Tapi Ren, gue gak rela, gue sayang dia, lo gak tau kan perasaan gue kaya apa?".
*Hanya terdiam*
3 Hari kemudian.......
Sejak Kevin pergi, Rendy seperti menggantikan Kevin, dia yang selalu menjagaku hingga saat ini. Pagi itu saat aku ingin pergi menuju kampus...
"Eh Rendy, kok lo yang jemput, Kevin mana?". Ucapku tanpa sadar.
"Kevin kan udah gak ada win.......udah ya".
"Oh udah gak ada ya, gue lupa......Ren?".
"Iya?".
"Kenapa sih Kevin ninggalin gue? Apa dia udah gak sayang sama gue ya? Gue kangen dia, skarang kalo gue kangen, gue harus berbuat apa? Gue mau liat senyumnya,gue kangen kata-katanya, gue mau jalan-jalan sama Kevin kaya dulu lagi Ren,apa........... udah ga bisa ya?" Ucapku sambil menunduk.
"Lo jangan sedih Win, Kevin gak rela kalo liat lu nangis kaya gini". Ucap rendy.
"Tapi gue juga ga rela kalo Kevin udah gak ada!".
"Kalo lo ikhlas, dia pasti seneng diatas sana".
*Hanya diam dengan sesekali menatap wajah Rendy lalu berkata:
"Kevin pernah bilang, gue harus kuat kaya kucing kecil yang pernah kita temuin di kampus, tapi..........gue bukan kucing, gue ga bisa kuat! gue cuma cewe cengeng yang bisanya cuma nangisin kepergiannya doang !".
*Rendy hanya mengusap kepalaku*
"Gue mau ketemu Kevin..........
Aku hanya bisa mengenangnya lewat foto, aku ingat saat kau bilang "Cepet cabi! lelet banget si lo!" Aku ingat saat kau bilang "senyumnya mana?" aku ingat semua kata yang kau ucapkan, gak ada lagi yang ngomong 'Susulalahu'. dan aku rindu senyummu, senyum yang selalu berhasil membuatku senang. Sekarang kamu kemana? kamu pergi meninggalkanku begitu saja, aku rindu saat kamu bilang 'Gue sayang lo'.
Apa yang bisa ku lakukan saat ini? tak banyak yang bisa membuatku senang. Aku ingin dia berada disampingku. Maafkan aku jika senyumku bersembunyi dibalik air mata ini. Aku tak bisa menahannya.
Hari demi hari pun berlalu, aku masih terlarut dalam kesedihanku, sementara rendy selalu menjagaku hingga saat ini. Saat itu, saat aku pergi ketaman ke tempat dimana dulu saat aku dan Kevin bersama,tiba tiba Rendy berkata :
"Apa yang harus gue lakuin biar lo bisa senyum lagi? bukannya dulu lo slalu ceria?".
*sambil menunduk lalu berkata : Gue gapapa, tapi bayangannya masih melekat di pikiran gue".
"Ijinin gue buat ngembaliin senyum lo yang dulu, gue gak sanggup ngeliat lo kaya gini! Gue mohon! jangan bilang enggak". Ucap Rendy
*hanya diam, sesekali menatap wajah Rendy*
'Tuhan dimana cintaku sekarang? apa ini benar takdir-Mu? aku merindukannya. Ini seakan2 "Cintaku memberikan cinta untukku". Yang berarti Kevin memberikan Rendy untukku'. Gumamku.
Aku tidak bisa terlarut dalam kesedihan yang lebih dalam, aku berfikir untuk menerima Rendy didalam kehidupanku, dan mencoba untuk melupakan DIA.
3 Bulan kemudian.....
Walau aku sudah menjalin hubungan dengannya, tapi sesekali aku masih mengingat bayangannya.
*Siang itu.........
"Ren , maaf gue masih keinget Kevin, gue gak maksud buat nyakitin lo tapi.............Gue sayang dia, gue kangen, gue pengen ketemu dia, Gue suka semua yang ada didiri Kevin, gue suka cara dia ngelirik gue sambil tersenyum, gue mau ketemu dia Ren, gue pengen meluk dia, seandainya waktu itu kalian gak usah kerumah gue, pasti kejadiannya ga bkal kaya gini, tiap gue liat cincin ini, gue pasti inget dia".
"Gue sadar selama ini lo masih butuh Kevin, Lo masih sayang dia dan gak bisa lupain dia!".
"Makasi Ren , udah mau ngerti".
"Ikut gue yuk sekarang!".
Lalu Rendy membawaku ke tempat yang belum aku kenal, walaupun jaraknya dekat, tapi aku tidak tahu daerah sini. dan Rendy mengantarku ke suatu rumah yang kecil dan sedikit kumuh. Aku dan Rendy memasuki rumah itu. Disana ada pria dengan muka setengah hancur sedang duduk dikursi roda yang sepertinya kaget dengan kedatangan kami, aku sedikit takut melihatnya, namun tiba-tiba saja dia tersenyum. Karena setengah wajahnya normal, terlihat satu lesum dipipinya, itu mengingatkanku dengan Kevin. Tiba-tiba saja aku menangis.
Dan tiba-tiba Rendy mendekati orang itu sambil berkata : "Ada yang kangen sama lo".
Aku sedikit bingung kenapa tiba-tiba Rendy mengucapkan hal itu.
"Kenalin ini Kevin Syahrial Pratama". Ucap Rendy sambil tersenyum.
Aku hanya kaget mendengar namanya, namanya seperti nama panjang Kevin. Lalu dia tersenyum untuk yang kedua kalinya, dan aku mulai menangis.
"Hay Windy, udah lama ga ketemu". Ucapnya
"Lo kevin! Tapi........... kenapa? bukannya lo udah................
"Pas kecelakaan itu gue emang sekarat, tapi gue gak mati, gue pesen ke dokter dan rendy biar kalian semua taunya gue mati". Ucap Kevin menjelaskan.
"Tapi............. kenapa lo lakuin ini semua vin , gue sedih banget waktu kehilangan lo". Ucapku.
"Maafin gue win, lo liatkan keadaan gue yang sekarang? gue cacat, gue udah gak sempurna lagi buat lo, jadi gue suruh Rendy biar dia bisa bikin lo bahagia dan skarang lo bisa pilih cowok yang lo suka, yang lebih sempurna dari gue". Ucap Kevin sambil membuang muka.
"Tapi nyatanya, gue ga bisa sayang sama Rendy, gue sayang sama lo, walaupun lo kaya gini, gue tetep sayang sama lo". Ucapku sambil meluk Kevin
"Gue seneng punya cewe kaya lo". Ucap Kevin.
Aku menyayangimu lebih dari apapun, aku akan menerima segala kekuranganmu.
Kita hanya jatuh cinta, tak ada salahnya bukan ? Ataukah cerita kita ini bukan kisah cinta? kita hanya perlu percaya, kita diciptakan untuk terus bersama, begitulah yang dijanjikan sebuah kisah cinta.
Sebut namaku, aku hanya ingin mendengarmu, sebut namaku, agar aku tau itu benar kamu, kamu mengubahku, jadi katakanlah:
"Aku hanya tidak ingin kehilanganmu"
"Ha? kok bisa? trus keadaan kevin gimana? Sekarang lo dirumah sakit mana?".
Rendy pun memberi tahu alamat rumah sakit tersebut kepadaku, saat aku datang, banyak saudara Kevin yang telah hadir, mereka mengeluarkan air mata.
"Ren , Kevin mana? gue mau liat dia!". Ucapku yang baru saja datang.
"Windy sayang, yang sabar ya nak, tante juga sedih". Ucap mama Kevin yang tiba-tiba memelukku.
"Sebenernya kenapa tante?". Ucapku yang sangat penasaran.
"Kevin .............. dia............. udah ninggalin tante!". Ucap Mama Kevin sambil menangis.
"Enggak tante, pasti gak mungkin! ini semua gak mungkin kan Ren, pliss jujur ke gue!". Ucapku
"Win, sorry tapi............. Kevin udah gak ada, dia udah ninggalin kita.".
"Tapi Ren dikit lagi gue tunangan sama dia!!!". Bentakku.
Lalu Rendy mengajakku ke ruang mayat unuk melihat kondisi Kevin. Dengan penuh darah, aku tidak begitu jelas melihatnya, aku hanya melihat jam tangan yang pernah kuberikan untukknya saat dia ulang tahun satu tahun yang lalu. Dan Rendy memberiku cincin, dia bilang "Itu cincin yang mau Kevin kasih buat lo".
Aku langsung menangis dan tidak percaya dengan apa yang kulihat.
"Ini pasti bukan Kevin, pasti ini bukan dia!". Bentakku.
"Lo harus bisa nerima kenyataan Win, biar Kevin bisa tenang disana". Ucap Rendy.
Setelah itu keluarganya memakamkan Kevin. Aku hanya menangis dan masih shock. Padahal akhir-akhir ini aku dan dia tidak ada masalah sedikitpun, tapi kenapa tuhan berkehendak lain?. Apakah KAU tidak mengizinkanku untuk tetap bersamanya?.
*saat dipemakaman*
"Kev, bangun sayang, kita kan mau tunangan, kenapa lo ninggalin gue?". Ucapku sambil menangisi kepergiannya.
"Udah win, lo harus ikhlas".
"Tapi Ren, gue gak rela, gue sayang dia, lo gak tau kan perasaan gue kaya apa?".
*Hanya terdiam*
3 Hari kemudian.......
Sejak Kevin pergi, Rendy seperti menggantikan Kevin, dia yang selalu menjagaku hingga saat ini. Pagi itu saat aku ingin pergi menuju kampus...
"Eh Rendy, kok lo yang jemput, Kevin mana?". Ucapku tanpa sadar.
"Kevin kan udah gak ada win.......udah ya".
"Oh udah gak ada ya, gue lupa......Ren?".
"Iya?".
"Kenapa sih Kevin ninggalin gue? Apa dia udah gak sayang sama gue ya? Gue kangen dia, skarang kalo gue kangen, gue harus berbuat apa? Gue mau liat senyumnya,gue kangen kata-katanya, gue mau jalan-jalan sama Kevin kaya dulu lagi Ren,apa........... udah ga bisa ya?" Ucapku sambil menunduk.
"Lo jangan sedih Win, Kevin gak rela kalo liat lu nangis kaya gini". Ucap rendy.
"Tapi gue juga ga rela kalo Kevin udah gak ada!".
"Kalo lo ikhlas, dia pasti seneng diatas sana".
*Hanya diam dengan sesekali menatap wajah Rendy lalu berkata:
"Kevin pernah bilang, gue harus kuat kaya kucing kecil yang pernah kita temuin di kampus, tapi..........gue bukan kucing, gue ga bisa kuat! gue cuma cewe cengeng yang bisanya cuma nangisin kepergiannya doang !".
*Rendy hanya mengusap kepalaku*
"Gue mau ketemu Kevin..........
Aku hanya bisa mengenangnya lewat foto, aku ingat saat kau bilang "Cepet cabi! lelet banget si lo!" Aku ingat saat kau bilang "senyumnya mana?" aku ingat semua kata yang kau ucapkan, gak ada lagi yang ngomong 'Susulalahu'. dan aku rindu senyummu, senyum yang selalu berhasil membuatku senang. Sekarang kamu kemana? kamu pergi meninggalkanku begitu saja, aku rindu saat kamu bilang 'Gue sayang lo'.
Apa yang bisa ku lakukan saat ini? tak banyak yang bisa membuatku senang. Aku ingin dia berada disampingku. Maafkan aku jika senyumku bersembunyi dibalik air mata ini. Aku tak bisa menahannya.
Hari demi hari pun berlalu, aku masih terlarut dalam kesedihanku, sementara rendy selalu menjagaku hingga saat ini. Saat itu, saat aku pergi ketaman ke tempat dimana dulu saat aku dan Kevin bersama,tiba tiba Rendy berkata :
"Apa yang harus gue lakuin biar lo bisa senyum lagi? bukannya dulu lo slalu ceria?".
*sambil menunduk lalu berkata : Gue gapapa, tapi bayangannya masih melekat di pikiran gue".
"Ijinin gue buat ngembaliin senyum lo yang dulu, gue gak sanggup ngeliat lo kaya gini! Gue mohon! jangan bilang enggak". Ucap Rendy
*hanya diam, sesekali menatap wajah Rendy*
'Tuhan dimana cintaku sekarang? apa ini benar takdir-Mu? aku merindukannya. Ini seakan2 "Cintaku memberikan cinta untukku". Yang berarti Kevin memberikan Rendy untukku'. Gumamku.
Aku tidak bisa terlarut dalam kesedihan yang lebih dalam, aku berfikir untuk menerima Rendy didalam kehidupanku, dan mencoba untuk melupakan DIA.
********************************************
Walau aku sudah menjalin hubungan dengannya, tapi sesekali aku masih mengingat bayangannya.
*Siang itu.........
"Ren , maaf gue masih keinget Kevin, gue gak maksud buat nyakitin lo tapi.............Gue sayang dia, gue kangen, gue pengen ketemu dia, Gue suka semua yang ada didiri Kevin, gue suka cara dia ngelirik gue sambil tersenyum, gue mau ketemu dia Ren, gue pengen meluk dia, seandainya waktu itu kalian gak usah kerumah gue, pasti kejadiannya ga bkal kaya gini, tiap gue liat cincin ini, gue pasti inget dia".
"Gue sadar selama ini lo masih butuh Kevin, Lo masih sayang dia dan gak bisa lupain dia!".
"Makasi Ren , udah mau ngerti".
"Ikut gue yuk sekarang!".
Lalu Rendy membawaku ke tempat yang belum aku kenal, walaupun jaraknya dekat, tapi aku tidak tahu daerah sini. dan Rendy mengantarku ke suatu rumah yang kecil dan sedikit kumuh. Aku dan Rendy memasuki rumah itu. Disana ada pria dengan muka setengah hancur sedang duduk dikursi roda yang sepertinya kaget dengan kedatangan kami, aku sedikit takut melihatnya, namun tiba-tiba saja dia tersenyum. Karena setengah wajahnya normal, terlihat satu lesum dipipinya, itu mengingatkanku dengan Kevin. Tiba-tiba saja aku menangis.
Dan tiba-tiba Rendy mendekati orang itu sambil berkata : "Ada yang kangen sama lo".
Aku sedikit bingung kenapa tiba-tiba Rendy mengucapkan hal itu.
"Kenalin ini Kevin Syahrial Pratama". Ucap Rendy sambil tersenyum.
Aku hanya kaget mendengar namanya, namanya seperti nama panjang Kevin. Lalu dia tersenyum untuk yang kedua kalinya, dan aku mulai menangis.
"Hay Windy, udah lama ga ketemu". Ucapnya
"Lo kevin! Tapi........... kenapa? bukannya lo udah................
"Pas kecelakaan itu gue emang sekarat, tapi gue gak mati, gue pesen ke dokter dan rendy biar kalian semua taunya gue mati". Ucap Kevin menjelaskan.
"Tapi............. kenapa lo lakuin ini semua vin , gue sedih banget waktu kehilangan lo". Ucapku.
"Maafin gue win, lo liatkan keadaan gue yang sekarang? gue cacat, gue udah gak sempurna lagi buat lo, jadi gue suruh Rendy biar dia bisa bikin lo bahagia dan skarang lo bisa pilih cowok yang lo suka, yang lebih sempurna dari gue". Ucap Kevin sambil membuang muka.
"Tapi nyatanya, gue ga bisa sayang sama Rendy, gue sayang sama lo, walaupun lo kaya gini, gue tetep sayang sama lo". Ucapku sambil meluk Kevin
"Gue seneng punya cewe kaya lo". Ucap Kevin.
Aku menyayangimu lebih dari apapun, aku akan menerima segala kekuranganmu.
Kita hanya jatuh cinta, tak ada salahnya bukan ? Ataukah cerita kita ini bukan kisah cinta? kita hanya perlu percaya, kita diciptakan untuk terus bersama, begitulah yang dijanjikan sebuah kisah cinta.
Sebut namaku, aku hanya ingin mendengarmu, sebut namaku, agar aku tau itu benar kamu, kamu mengubahku, jadi katakanlah:
"Aku hanya tidak ingin kehilanganmu"
Akhir dari perjuangan adlah kebahagiaan...Jika kita belum siap untuk menerima kekurangan dari kekasih kita, lebih baik kita tidak perlu memiliki seorang kekasih sebab kalau kita memaksakan diri untuk memiliki seorang kekasih, yang ada kita akan membuat orang menjadi sakit hati kepada kita.
It's You
“Ketika orang yang kamu sayang tiba-tiba
meninggalkanmu, apa yang akan kamu lakukan demi bisa membuatnya kembali
kepelukanmu? Apakah kamu akan mengejar matahari sampai terbenam ? Ataukah kamu
akan menyebrangi lautan dengan ke 4 samudera didalamnya? Ataukah kamu akan
menangis begitu saja”.
Aku
ditinggalkan oleh orang yang ku sayang, entah karna apa tiba-tiba saja dia
pergi. Sewaktu putus dia bilang sama gue kalau dia udah bosen sama gue. Dan
kata terakir dari dia yang gue inget sampe skarang itu dia cuma bilang “Lo bisa
kok tanpa gue J”. Gue ga ngerti sama jalan
pikirannya, apa coba yang dia pikirin sampe-sampe ninggalin gue kaya gini.
Padahal 2 tahun itu waktu yang cukup lama
untuk KITA. Aku suka melihat bintang yang bertaburan di langit pada malam hari.
Itu membuatku sedikit nyaman. Aku adalah salah satu mahasiswi dari suatu
universitas di Jakarta, namaku Silia Oktaviany. Aku mempunyai 1 sahabat setia
yang selalu menemaniku di dunia yang membosankan ini, sebut saja dia Tiara.
Semenjak
putus dari Rafa aku jadi galau akut gitu, susah sih sebenernya ngelupain orang
yang bener bener aku sayang. Rasanya jahat banget kalau perasaan yang mendalam dihempaskan
begitu aja dengan mudah,
tanpa pertimbangan. Aku masih sering bertemu dengannnya di kampus.
Setiap bertemu dengannya, aku pasti menghindar, aku takut aku tak bisa
mengendalikan perasaanku , yang ada nanti hanyalah tangisan. Tangisan cengeng
dari mataku yang tak bisa ku bendung. Aku lemah, lemah karena DIA.
Seperti
biasa siang ini aku duduk di taman belakang kampus, dengan meminum jus
kesukaanku yaitu jus alpukat buatan bu ira salah satu pedagang dikantin.
Tiba-tiba ada sesuatu benda yang jatuh tepat dihadapanku.
“Kaya ada yang nimpuk gue dari belakang, siapa
ya?”. Ucapku sambil mencari siapa orang tersebut.
“Padahal disini kan sepi”. Ucapku.
Lalu kuambil benda tersebut yang ternyata adalah
secarik kertas yang digulung berbentuk bola. Kubuka kertas itu dan terdapat
tulisan “Jus Alpukat” dengan emot senyum disampingnya.
“Ini siapa lagi yang iseng lempar lempar kertas,
jangan jangan……”. Ucapku yang mulai penasaran.
“Wayoooo!”. Ucap Tiara yang tiba-tiba
mengagetkanku
“Ah elo! Ngagetin aja, Eh ra moso tadi ada yang
nimpuk gue pake kertas, trus ada tulisannya”Jus Alpukat” pake emot senyum gitu,
siapa ya ?”. Tanyaku
“Perasaan lo aja kali, mungkin dia iseng, udah
jangan dipikirin”. Ucapnya.
“Iya kali ya?”. Ucapku lalu terdiam.
“Udahlah lupain aja, palingan dia pengen buang
sampah”. Cetusnya.
“Tapi kenapa arahnya ke gue ? lo pikir gue tempat
sampah?”. Jawabku gerutu.
“Wkwkwk bercanda cintah”. Ucap Tiara sambil
merangkul ku lalu kami pun pergi.
Sesampainya dirumah………
“Assalamu’alaikum mah?”.
“Wa’alaikumsalam, oya sil ada bingkisan buat kamu”.
“Dari siapa mah?”.
“Mama juga gak tau,ga ada namanya, tadi mama
temuin di depan pintu rumah, Cuma ada tulisan ‘untuk Silia Oktaviany’ jadi mama
ambil aja”.
“Bingkisan? Gak pernah aku dapet bingkisan
kecuali dari Rafa, kenapa bisa ada bingkisan?”. Gumamku.
“Trus bingkisannya mana ma?”.
“Mama taro dikamar kamu”.
Langsung
saja aku naik ke tangga menuju kamar, lalu kututup pintu kamar rapat-rapat. Aku
melihat bingkisan itu, bingkisan berbentuk kotak kecil yang dibungkus oleh
kertas kado warna putih dan ada gambar Winnie the pooh disetiap sisinya, dan
ada pita merah diatasnya yang terhubung dengan secarik kertas yang bertuliskan
namaku.
“Kira-kira siapa ya yang ngirim ini?”. Ucapku
sambil memegang bingkisan itu.
Kubuka bingkisan itu dan didalamnya ada kertas
lagi, kertas yang agak tebal dengan gambar pasangan yang sedang duduk dibawah
langit yang penuh bintang dan ada tulisan “kamu” dipojok kanan kertas itu.
“Apa sih ini maksudnya, tadi siang ‘Jus Alpukat’
sekarang gambar, ini siapa yang ngirim?”. Pikirku.
“Apa jangan-jangan………’Rafa? pasti dia”.
“Apa jangan-jangan………’Rafa? pasti dia”.
Esoknya
ku ceritakan semuanya ke Tiara tentang bingkisan itu, Tiara bilang “coba lo Tanya
aja langsung ke Rafanya’, tapi aku takut untuk menanyakannya, bertemu dengannya
saja aku langsung menghindar apalagi ngomong secara langsung. Gumamku
Tapi
aku mencoba untuk berani menanyakannya, tak lama kemudian Rafa lewat tepat
dihadapan kami berdua. Tiara langsung menjorokiku.
“Ehm Raf?”. Ucapku gemetar.
“Elo, knapa?”.
“Ehm yang nimpuk gue waktu siang-siang itu lo
bukan? Trus yang ngirim bingkisan gambar itu lo bukan?”.
“Kertas? Bingkisan? Kapan gue ngirimnya? Lo salah
orang kali”. Jawabnya lalu pergi.
“aduh bego banget sih gue, jadi mati gaya kan tuh
tadi”. Ucapku sambil menyesali perbuatanku.
“Gimana kata Rafa?”. Tanya Tiara.
“Harusnya gue ga nanya tentang ini ke dia”.
“loh emang kenapa?”.
“Harusnya kita selidikin dulu, jangan maen tuduh
aja, gue kan jadi mati gaya kalo bukan Rafa pelakunya”. Jelasku.
“Jadi bukan Rafa?”.
“Iya bukan dia, tapi Rafa tambah ganteng yak?”.
Ucapku sambil senyam senyum sendiri.
“Yehhhh elo malah ke sem-sem gituh-__-”.
Semenjak
itu aku jadi berfikir apa maksud dari semua ini, kalo bukan Rafa siapa
pelakunya? Aku dan Tiara mencoba mencari siapa orangnya tapi selalu gagal dan
gak pernah berhasil. Aku jadi semakin penasaran. ‘Jus Alpukat dan ‘Bingkisan’
itu artinya apa?
3 Hari kemudian…
Hari
ini kebetulan hari libur, aku dan Tiara bermaksud pergi mengunjungi café ice
cream dekat rumah Tiara. Saat sampai disana terlihat disebrang jalan ada Rafa
baru kelauar dari mobil silvernya, lalu dari arah depannya ada seorang gadis
yang tiba-tiba memeluknya.
“Sil? Lo kok bengong sih? Hellooooooooooooooo
Siliaaaa?”. Ucap Tiara.
“Ra itu liat Rafa disebrang jalan”. Ucapku yang hampir
menangis.
“Oh iya bener, itu cewenya siapa ya? Udah sil
sabar ya?”.
Tiara
pun mengajakku masuk ke café ice cream, dia mencoba menghiburku yang sudah
menangis, rasanya nyesek senyesek-nyeseknya orang nyesek L. Tiara memesankan aku ice cream.
“Anjrit ra! Nyesek banget gue, apa coba maksudnya
dia kaya gitu? Mau pamer apa kalo dia udah punya yang baru?”. Ucapku.
“Sabar sil, sapa tau itu sodaranya”. Ucap Tiara
mencoba menghibur.
“Udah 2 tahun ra gue pacaran, lo lupa? Gue udah
kenal semua keluarganya”.
“Iya juga sih, yaudah tenangin diri lo dulu”.
Gak lama kemudian status Rafa di bbm berubah jadi
’20J’”.
“Aaahh jadi nyesek beneran kan?”. Ucapku sambil
menunjukan status bbm ke tiara.
Tangisanku
mulai susah untuk dihentikan, aku tak tau apa kesalahanku hingga aku dibuat
seperti ini olehnya, seingatku aku tidak punya masalah dengannya bahkan
keluarganya. Tapi kenapa semua jadi begini.
“Sabar sil, mantan lo cuma lagi dipinjem orang,
ntar kalau dia tau
majikannya ga lebih baik dari elo,dia pasti bakal balik lagi kok. WOLES.....". Ucap Tiara.
“Hehe Amin, makasi ra”. Ucapku.
lalu
tiba-tiba ada pelayan yang mengantarkan ice cream stroberi super besar dengan
banyak coklat diatasnya. Biasanya hanya Rafa yang memesankan ice cream itu
padaku.
“Tapi mas, saya gak pesen ini, ini kan mahal”.
Ucapku sambil menghapus air mataku.
“Oh ini sudah dibayar mba, saya Cuma disuruh
untuk mengantarnya saja, nama mba Silia Oktaviany bukan?”. Tanyanya.
“Iya itu nama saya, siapa orang yang nyuruh mas?”.
Tanyaku.
“Oh orangnya udah pergi mba, tadi dia duduk
disebelah situ”. Ucapnya sambil menunjuk ketempat duduk yang ada di dalam.
“Bearti jangan-jangan orang itu tadi deket sama
kita dong ra?”.
“Iya! Kok kita bisa gak sadar ya?”.
“Kita telat ra, pasti dia udah pergi jauh”.
**********************************************************************
Malam
ini aku bergalau ria dikamarku dan kebetulan hari ini Tiara menginap dirmahku,
kami mendengarkan lagu ‘Secondhand serenade-Awake’. Entah kenapa lagu ini
sangat mengingatkanku kepada Rafa, aku tak bisa melupakannya sama sekali, Kadang
aku berusaha keras mencari jawaban yang sebenarnya tak pantas jadi pertanyaan. kenapa
kita berpisah?. Selalu pertanyaan itu yang ada dalam pikiranku.
Dulu
saat kita bersama, banyak hal bodoh yang kita lakukan disetiap saat, tapi
sekarang, hanya bisa mengingat manis, tapi miris. Kalau diingat-ingat dulu
ternyata kita manis
juga ya, tapi sekarang kenapa semua terasa pahit? Apa karena sudah jadi
kenangan?. Aku merindukanmu, kalau aku mengingatmu seakan-akan ada luka yang
membekas. Ibarat lukanya di kamu, terasa sakitnya di aku.
Aku juga masih memikirkan orang misterius
itu, sebenarnya dia itu siapa? Kenapa dia bisa tau aku menyukai jus alpukat,
kenapa dia bisa tau aku suka memandangi bintang dilangit pada malam hari,
kenapa dia bisa tau saat aku bersama Rafa dulu kami pasti memesan ice cream
super besar dengan banyak coklat diatasnya. Ini seperti teka-teki yang harus
aku pechakan.
5 Hari kemudian…
Aku
mendapat bbm dari Rafa, dia bilang dia ingin bertemu denganku ditaman malam ini
juga. Tanpa pikir panjang aku langsung pamit dan langsung menemuinya, aku juga
sangat senang hari ini bisa bertemu dengannya.
Sesampainya disana…
Aku melihatnya berdiri disana sedang memegang
sesuatu.
“Raf?”. Sapaku.
“Hay sil”. Ucapnya sambil tersenyum.
“Jadi kenapa lo manggil gue kesini?”. Tanyaku.
“Ehm sebenernya……
“Sebenernya kenapa?”.
“Ehm lo inget ini gak ?”. Ucapnya sambil
menyodorkan kertas lecek yang bertuliskan ‘Jus alpukat’ dengan emot
disampingnya.
“Itu kan…………”. Ucapku kaget saat melihat kertas
yang pernah kutemukan itu.
“Trus lo inget gambar ini ga ?”. Ucapnya sambil
menunjukan kertas yang agak tebal dengan gambar pasangan yang sedang duduk
dibawah langit yang penuh bintang dan ada tulisan “kamu” dipojok kanan kertas
itu.
“Itu kan kertas yang ada di bingkisan waktu itu,
jadi slama ini……”
“Iya itu gue yang ngirim, ice cream super besar
itu juga gue yang beliin diem2 buat lo”.
“Tapi kenapa waktu itu pas gue tanya, lo bilang
lo gatau apa2?”.
*Dia cuma tersenyum*
“Trus lo kan udah punya cewe”.
“Kata siapa?”.
“Status lo di bbm yang 20J itu apa ? Trus waktu itu di sebrang café ice cream lo
di peluk sama cewek, itu siapa ?”. Ucapku lalu menangis.
“Itu sahabat gue dari kecil yang datang dari
Makassar, dia ulang tahun tanggal 20 makanya gue tulis di bbm 20J”.
Ucapnya sambil tersenyum.
Lalu
Rafa membuka gambar itu dan dia membuka kertas itu, ternyata dibalik gambar pasangan
yang sedang duduk dibawah langit yang penuh bintang itu ada tulisan “Aku sangat
menyayangimu, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu sedikitpun” dan disitu
tertulis nama ‘Rafa’.
“Ini semua maksudnya apa sih ?”. Tanyaku.
“Gue Cuma ngetes lo doang sil, maaf ya, gue gak
bermaksud kaya gitu, gue nguji diri gue sendiri, apa gue bisa jalanin hari gue
tanpa lo, nyatanya semuanya gagal, gue gak bisa! Gue malah semakin takut
kehilangan lo, maafin gue ya”. Ucapnya sambil memelukku.
“Jadi slama ini lo ngetes gue doang ? tapi kenapa
sampe putus ?”. gue sampe nangisin lo tau gak! Jahat banget si lo!”.
“Oh ya? lo nangisin gue? Maaf ya Silia udah buat
lo kaya gini maaf bangeeeet!”. Ucapnya sambil mengusap air mataku.
“Awalnya gue itu pura-pura benci & lupa sama
lo, tapi akhirnya gue sadar pura-pura benci & lupa itu Cuma nyakitin diri
gue sendiri karna sebenernya gue ga bisa benci dan lupa sama lo, Lo mau gak
jadi pendamping hidup gue lagi?”. Pintanya.
“Kita kan belom putus, 2 minggu yang lalu itu Cuma
ngetes doang kan ? bearti putusnya putus boongan ?”. Ucapku sambil ngeledek.
“Bisa aja lo, bearti kita jadian lagi kan?”.
Ucapnya.
“Iyak iyak”.
“Gue sayang lo banget Silia Oktaviany”. Ucapnya
sambil memelukku lalu mencium keningku.
Kamu
bukan mantan. Kamu adalah seseorang yang pernah aku miliki. Sampai suatu saat kita
akan saling memiliki lagi. Dan itu benar,
sekarang kau menjadi milikku lagi. Awalnya membiasakan diri pada perpisahan itu
memang sulit, tapi bukan berarti tidak akan berhasil dilakukan bukan ?.
Menjadi
orang yang sangat dicintai memeberiku kekuatan, sementara mencintai seseorang
secara mendalam, memberiku keberanian untuk bisa berada disampingmu.
Aku
akan menjagamu dengan kasih sayangku hingga sampai saatnya nanti kamu bilang:
aku harus pergi, kamu tidak perlu lagi menjagaku, dan kamu tidak usah takut
untuk sendirian, karena akulah yang akan menjagamu dari atas sini.
Rabu, 26 Desember 2012
Quotes oleh Dwitasaridwita ~
Tuhan, sampaikan rindu
tak bertepi ini. Aku rindu, ingin memelukmu.
Untuk kamu yang pernah menjadi alasan aku tersenyum.
Aku rindu, aku ingin memelukmu. Aku ingin bisa menjadi alasan mengapa kamu tertawa ketika memandangi kebodohanku. Aku ingin menciumi aroma tubuhmu yang selalu buatku melayang. Aku ingin selalu ada di pikiranmu walaupun hanya sekedar datang dan berlari sejenak disana.Aku rindu....
Sapaan pagi yang selalu aku dapati, kini seakan handphone tak pernah bernyawa.
Selalu saja mata ini ingin memandangi tampilan handphone-ku, selalu saja tangan ini ingin mencoba mengetikkan huruf demi huruf, menjadi kalimat yang ingin ku kirimkan kepadamu.
Sapaan selamat tidur yang selalu aku terima, kini seakan malam ku mencoba tidur tanpa mimpi.
Selalu saja angan mengajakku mengingat kata-katamu yang selalu berkata, aku sayang kamu.
Ingin kutanyakan padamu, apakah posisiku di dalam sana sudah kau gantikan dengan mereka yang lebih cantik daripada aku? Ingin aku buka isi hatimu, melihat dengan mataku sendiri apakah aku masih ada disana.
Ingin kusampaikan padamu, bahwa hingga detik ini, hingga saat ini, kamu masih sukses mencuri perhatianku, mencuri pikiranku. Ingin kutanyakan lagi padamu, pernahkah sejenak kau memikirkan aku? Aku disini yang masih saja berdiam di tempat karenamu...
Seandainya memang benar kau tak bisa melupakanku, jangan kau tanyakan lagi hal yang sama.
Aku pun demikian, masih terjebak di kenangan bersamamu, kenangan manis yang tak pernah aku dapatkan dari siapapun. Apa semua itu yang buatmu tak bisa melupakanku?
Bahkan, untuk menggantikan posisimu saja aku tak rela. Aku tak ingin tempatmu digantikan oleh mereka yang mungkin saja lebih akan menyakitiku lebih dari caramu hempaskan aku.
Bolehkah aku menjadi satu yang kau cinta?
Aku ingin menjadi wanita yang terus memperhatikanmu, menanyakan apa kabarmu, selalu mengingatkan jangan lupa makan dan jangan lupa sholat. Aku ingin sekali, tapi apa daya?
Aku dianggap apa olehmu? Mungkin, kini aku sudah bersama sederetan mereka yang dulu pernah sakiti kamu.
Tuhan, sampaikan rindu tak bertepi ini. Aku rindu, ingin memelukmu.
Selasa, 25 Desember 2012
"Saya pernah datang dan saya sangat penurut . . ."
Anak ini rela melepasakan pengobatannya, padahal sebelumnya dia
telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari
perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut menjadi
tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang
menghadapi kematian.
Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu.
Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya.
Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.
Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, "Saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan". Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yuan.
Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada ASI dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh.
Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.
Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papanya mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain.
Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.
Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya.
Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya diceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.
Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia.
Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya.
Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Di pahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah.
Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya.
Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.
Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar $300.000.
Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit.
Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu-satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.
Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata yang belum sempat terlontar, "Papa saya ingin mati!"
Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, "Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati?"
"Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini."
Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri.
Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto.
Yu Yuan berkata kepada papanya, "Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah foto ini."
Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya.
Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudian memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum.
Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.
Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yang berumur 8 tahun mengatur pemakamakannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng.
Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.
Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese di dunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.
Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.
Ada seorang teman di email bahkan menulis: "Yu Yuan anakku yang tercinta, saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta."
Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup.
Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita di dalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring diranjang untuk diinfus.
Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh.
Pada saat pertamakali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata.
Yu Yuan yang dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.
Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, "Anak yang baik."
Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut.
Pernah mengalami pendarahan di pencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orangpun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.
Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.
Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan, "Bibi kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya?" Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut.
Wartawan tersebut menjawab, "Karena mereka semua adalah orang yang baik hati." Yu Yuan kemudian berkata, "Bibi saya juga mau menjadi orang yang baik hati." Wartawan itupun menjawab, "Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik."
Yu Yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. "Bibi ini adalah surat wasiat saya."
Fu yuan kaget sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan di atas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, Bibi Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal Bibi Fu Yuan.
Dalam surat itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat Bibi wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal.
"Tolong . . . "
Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang-orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar.
"Sampai jumpa bibi, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga kepada pemimpin palang merah.
"Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh." Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.
"Saya pernah datang, saya sangat patuh," demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan.
Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan di pencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula-mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan dipencernaan Yu Yuan semakin parah.
Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis.
Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air, sungguh telah pergi kedunia lain.
Di kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumupuk "setinggi gunung".
Ada seorang pemuda berkata dengan pelan, "Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakkanlah kedua sayapmu. Terbanglah . . ."
Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Di depan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya.
Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.
Di depan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Di atas batu nisannya tertulis, "Aku pernah datang dan aku sangat patuh (30 nov 1996 - 22 agus 2005)".
Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. "Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu."
Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie.
Tujuh anak kecil yang menderita ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.
Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua XI berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut.
"Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami di atas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata, Aku pernah datang dan aku sangat patuh."
Seorang anak kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari masyarakat Dunia.
Walaupun hidup serba kekurangan, dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan.
Semoga kisah ini menginspirasi Anda. Mohon SHARE kisah ini kepada teman-teman Anda agar mereka dapat terinspirasi juga oleh kebaikan hati Yu Yuan.
Salam penuh kasih,
Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu.
Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya.
Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.
Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, "Saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan". Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yuan.
Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada ASI dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh.
Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.
Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papanya mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain.
Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.
Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya.
Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya diceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.
Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia.
Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya.
Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Di pahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah.
Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya.
Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.
Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar $300.000.
Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit.
Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu-satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.
Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata yang belum sempat terlontar, "Papa saya ingin mati!"
Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, "Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati?"
"Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini."
Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri.
Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto.
Yu Yuan berkata kepada papanya, "Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah foto ini."
Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya.
Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudian memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum.
Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.
Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yang berumur 8 tahun mengatur pemakamakannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng.
Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.
Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese di dunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.
Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.
Ada seorang teman di email bahkan menulis: "Yu Yuan anakku yang tercinta, saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta."
Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup.
Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita di dalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring diranjang untuk diinfus.
Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh.
Pada saat pertamakali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata.
Yu Yuan yang dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.
Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, "Anak yang baik."
Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut.
Pernah mengalami pendarahan di pencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orangpun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.
Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.
Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan, "Bibi kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya?" Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut.
Wartawan tersebut menjawab, "Karena mereka semua adalah orang yang baik hati." Yu Yuan kemudian berkata, "Bibi saya juga mau menjadi orang yang baik hati." Wartawan itupun menjawab, "Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik."
Yu Yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. "Bibi ini adalah surat wasiat saya."
Fu yuan kaget sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan di atas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, Bibi Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal Bibi Fu Yuan.
Dalam surat itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat Bibi wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal.
"Tolong . . . "
Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang-orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar.
"Sampai jumpa bibi, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga kepada pemimpin palang merah.
"Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh." Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.
"Saya pernah datang, saya sangat patuh," demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan.
Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan di pencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula-mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan dipencernaan Yu Yuan semakin parah.
Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis.
Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air, sungguh telah pergi kedunia lain.
Di kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumupuk "setinggi gunung".
Ada seorang pemuda berkata dengan pelan, "Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakkanlah kedua sayapmu. Terbanglah . . ."
Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Di depan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya.
Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.
Di depan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Di atas batu nisannya tertulis, "Aku pernah datang dan aku sangat patuh (30 nov 1996 - 22 agus 2005)".
Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. "Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu."
Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie.
Tujuh anak kecil yang menderita ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.
Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua XI berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut.
"Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami di atas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata, Aku pernah datang dan aku sangat patuh."
Seorang anak kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari masyarakat Dunia.
Walaupun hidup serba kekurangan, dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan.
Semoga kisah ini menginspirasi Anda. Mohon SHARE kisah ini kepada teman-teman Anda agar mereka dapat terinspirasi juga oleh kebaikan hati Yu Yuan.
Salam penuh kasih,
Kamis, 13 Desember 2012
Awake
With every appearance by you, blinding my eyes,
I can hardly remember the last time I felt like I do.
You're an angel disguised.
And you're lying real still,
but your heart beat is fast just like mine.
And the movie's long over,
that's three that have passed, one more's fine.
Will you stay awake for me?
I don't wanna miss anything
I don't wanna miss anything
I will share the air I breathe,
I'll give you my heart on a string,
I just don't wanna miss anything.
I'm trying real hard not to shake. I'm biting my tongue,
but I'm feeling alive and with every breathe that I take,
I feel like I've won. You're my key to survival.
And if it's a hero you want,
I can save you. Just stay here.
Your whispers are priceless.
Your breathe, it is dear. So please stay near.
Will you stay awake for me?
I don't wanna miss anything
I don't wanna miss anything
I will share the air I breathe,
I'll give you my heart on a string,
I just don't wanna miss anything.
Say my name. I just want to hear you.
Say my name. So I know it's true.
You're changing me. You're changing me.
You showed me how to live.
So just say. So just say,
That you'll stay awake for me.
I don't wanna miss anything.
I don't wanna miss anything.
I will share the air I breathe,
I'll give you my heart on a string,
I just don't wanna miss anything
Minggu, 13 Mei 2012
Love and the basketball
“Love
And The Basketball”
‘Putri Sylvia
Maharani’ yah itulah namaku, aku terkenal dengan sebutan “Anak cupu” di
sekolah. Selalu memakai kacamata besar seperti mata kodok. Teman-temanku hanya
memandangku dengan sebelah mata, mereka hanya menganggapku si “Cewek Cupu” yang
aneh.
Pagi itu saat
sampai disekolah…..
Aku menghirup
sejuknya udara pagi, dan melihat tulisan yang sudah ada didepanku “Welcome to
56 Senior High School”. Walaupun disekolah selalu jadi bahan pembicaraan dan
ejekan tetapi yah, dibawa happy aja.
“Diooon, Diooon,
aaaaaahhhh keren banget”. Itu teriakan cewek-cewek yang suka sama Dion, yah
Dion itu semacam cowok terpopuler disini,dia kapten basket,pintar,baik dan
sopan, yah sepertinya. Dia itu juga cowok yang aku suka disekolah ini hehehe.
tiba-tiba…..
Brrrruuuuaaaakkkkk
!!!!
“Eh,
ehm Dion sorry ya, gue engga sengaja,maaf banget”. Ucapku yang tidak sengaja
menabraknya.
“Elu
lagi, kenapa sih lu nabrak gue terus”. Ucap Dion
“Maaf,
sorry,ehm……..,ehm gue……”. Ucapku terbata-bata
“Lu tuh cewek
cupu disekolah ini kan ? mirip Betty Lavea ya ? ahahahahahah”. Ucap Dion sambil
tertawa.
Karna merasa
diejek,aku pun langsung kembali ke kelas, betapa sakitnya hati ini diejek oleh
orang yang aku sukai..
“Hahahah jangan
gitu lu, tuh kan dia kabur”. Ucap Ricky sahabat Dion
“Biarlah,abis
dia selalu ngerusak hari-hari gue,siapa si namanya?”. Tanya Dion
“Namanya Putri
Sylvia Maharani kelas X-E”. Jawab Ricky.
“Yaudah lah…..”
Kriinnngggggg, krriiingggggg, krriiinnnggggggggg
(Bel Masuk)
Dikelas Dion.
“Pagi anak-anak”.Ucap
Bu Dina guru Bahasa Indonesia
“Pagi buu….”.Ucap
semua anak
“Hari ini ibu
akan membagikan hasil ulangan kemarin, Ibu panggil namanya satu-satu lalu maju
kedepan”. Ucap Bu Dina,lalu tiba giliran Dion dipanggil maju ke depan kelas.
“Dion Noegraha
Triputra”.Ucap Bu Dina memanggil Dion.
“Nilaimu cukup
bagus 89”
“Alhamdulilah”.Ucap
Dion
“Ibu bangga sama
kamu, walaupun kamu kapten basket disekolah ini tetapi semua nilaimu semuanya
bagus,pertahankan ya”. Ucap Bu Dina
“Nilai lu bagus juga,hahahah, cieeeee yang
dipuji guru”. Ledek Ricky
“Apaan sih
lu,engga jelas”. Ledek Dion
Saat pelajaran dimulai…
“Dion,
ssssstttt, Dion”. Bisik salah satu teman cewek Dion yaitu Siska Miranda
“Apa?”. Jawab
Dion
Lalu Siska
mengoper secarik kertas untuk Dion yang bertuliskan “Gue mau jalan sama lu,kita
jalan bareng yah malam mini”.
Dion pun
membacanya dan membalas isi suratnya yang tertulis “Sorry gue engga bisa,
maaf!”
Saat istirahat….
Dion dan
teman-teman satu tim pun ke lapangan untuk latian basket,lapangan pun ramai di
tempati cewek-cewek yang pengen nonton.10 menit disaat latihan berjalan…
“Cuma segitu
kemampuan tim basket SMA 56?”.Ucap salah seorang cowok yang tiba-tiba datang
masuk lapangan.
“Maksud lo apa?
Lo siapa? Main masuk-masuk aja”. Ucap Ricky sedikit kesal
“Kenalin
gue Reno, kapten basket dari SMA 25, siapa si kaptennya? Engga bener
banget”.Ucapnya
“Eh
lo kalo ngomong jangan asal”. Ucap Bayu salah seorang teman Dion satu tim.
“Udah
Bay biarin aja, gue kaptennya. Kenapa? Masalah buat lo?”.Ucap Dion agak emosi.
“Oh
jadi elo kaptennya,pantes ga becus. Gimana kalo kita tanding aja?”.
“Oke,siapa
takut”.
Pertandingan pun dimulai, lapangan
jadi makin rame,aku yang tiba-tiba lewat pun langsung ikut menonton pertandingan
tersebut.Memperhatikannya dari arah yang jauh.Itu caraku mengaguminya.
“Kapten
oper!”. Ucap Bayu
“Langsung
shootttt!”. Ucap Dion
“Bagus
masuk” Ucap raka tim Dion satu tim
20
menit berlalu, score menunjukan SMA 56 lah yang menjadi pemenang kali ini.
Piitttt,
Priittt, Prittttt…
“Sudah
cukup mainnya, apa-apaan kalian ini, Dion dan yang lain kalian masih punya
waktu istirahat 15 menit,dan kalian murid dari SMA 25 sebaiknya kembali ke
sekolah kalian”.Ucap guru olahraga yaitu pak Irfan.
“Cuma
segitu kemampuan lo? Jangan sekali-kali ngermehin tim basket SMA 56,
ngerti?’Ucap Dion.
‘Oke
kapan-kapan kita tanding basket lagi,ini belum selesai!”
“Oke,gue
tunggu KEKALAHAN lo”. Bisik Dion
“Udah
ayo kita kekantin”. Ucap Ricky
Brrruuuaaaaakkkkk!!!!
“Aduh”
“Au”
“Elo
lagi,elo lagi,lo nabrak-nabrak orang mulu”.Ucap Dion kesel
“Eh
sorry tadi gue lagi baca buku”. Ucapku
“Makannya
kalo lagi baca buku jangan sambil jalan, kasian kan orang yang lu tabrak,dasar
cewek aneh’.Ucap Dion
“Maaf,
ya skali lagi maaf banget, ehm gue….”
“Lu
putri kan?”. Tanya Dion
“Kok
lu tau?”
“Jelaslah
gue tau, lu kan cewek aneh di sekolah ini,jangan ke ge’eran dulu”.
“Ehm…”
“Eh,
liat deh cewek mata kodok itu lagi ngobrol sama Dion, ihh engga cocok banget
kan?” Ucap Nita salah seorang teman dari Siska.
Saat mendengar ucapan dari Nita,
Siska pun segera mendekat ke Dion dan Putri.
“Eh
cewek aneh, ngapain lu deket-deket sama cowok gue?”. Ucap Siska dengan
membentak
“Eh
gue tuh bukan cowok lu,engga usah ngaku-ngaku deh”.Ucap Dion yang sedikit
marah.
“Tapi
Dion, lo tuh cuma milik gue”. Ucap Siska.
“Sorry
Siska Maharani, tapi gue engga suka sama lo, walaupun lo cewek terpopuler di
sekolah ini, udah Put lu balik aja ke kelas lu“. Ucap Dion
“Iya.”
Ucapku
Saat pulang sekolah….
Aku selalu
datang ke taman Veros yang ada didekat rumah, hanya di tempat itu lah aku
merasa tenang,aku selalu menyendiri disana sambil membaca buku yang aku bawa.Di
luar sekolah penampilanku berbeda dari biasanya, ketika dirumah aku tidak
memakai kacamata kodok itu,melainkan lensa mata. Diluar sekolah aku juga tidak
berpenampilan cupu seperti di sekolah.Tentang Dion,aku tak tau apa yang ku rasa
saat ini. Aku selalu mengingat saat-saat dimana aku bertabrakan dengannya tadi
di sekolah.Aku selalu dekdekan saat melihat wajahnya,tapi dia tidak mungkin
bisa menyukaiku dan aku pun mulai putus asa….
“Duk,
duk, duk….”. Tiba-tiba ada suara
“itu
siapa?”. Tanya ku dalam hati
Aku
pun mencari letak suara itu berasal, ternyata itu suara Dion yang sedang main
basket dan menuju ke tempat aku duduk, betapa kagetnya aku, karena taman ini
jarang sekali dikunjungi oleh orang-orang.
‘Loh
ada orang? Lo siapa?”. Tanya Dion
Sejenak
aku diam. “Dion engga ngenalin kalo ini gue si cewek aneh”. Bisikku dalam hati.
“Sorry
lu siapa? Kenapa lu disini? Biasanya disini engga ada orang , jadi sorry kalo
gue nanya-nanya”. Ucap Dion
“Ehm…..
gue put, eh gue Via, iya panggil aja Via”. Ucapku
“Oh,
kenalin nama gue Dion, gue main basket dulu ya?”.
“Iya”.
Dion
pun mulai main basket di taman Veros sambil ditemani dengan Via, yah lebih
tepatnya Via yang menyamar menjadi Putri.
15
menit kemudian…….
“Gue
balik dulu ya? Udah sore nih, nanti takut dicariin sama nyokap hehe”. Ucapku
“Ehm
oke deh”. Ucap Dion singkat.
Diperjalanan pulang aku pun kembali
melamun memikirkan dia, tapi gue engga nyangka ya kalo dia itu bisa baik juga
sama gue, mungkin karna dia pikir gue ini bukan si Putri ‘Cewek Cupu aneh’.
Sorry Dion tadi gue ga bermaksud bohongin lu, gue Cuma engga mau kalo lo tau
gue itu adalah Putri, lu pasti bakal ngejauh dari gue sedangkan gue pengen
banget deket sma lo, dan ini kesempatan gue.
Sementara itu
dengan Dion….
“Via…….
Via…………….Via, ah kenapa gue slalu nginget namanya sih? Tapi dia manis”. Ucap
Dion sambil tersenyum.
“Eh,
ngomong apa gue barusan? Via? Aduuhhhhh baru aja kenal, ga mungkin kan kalo gue
naksir dia?”. Ucapnya
Dion pun kembali
pulang kerumah, ditengah perjalanan Dion bertemu dengan sahabatnya Ricky, dia
memberitaukan kabar tentang SMA 25 yang mau ngajak Dion tanding ulang. Dion pun
setuju dan pertandingan itu akan diadakan besok siang sepulang sekolah di
lapangan Veros.
Esoknya saat
disekolah…….
‘Kapten
kita harus siap-siap nih buat tanding basket nanti”. Ucap Bayu
“Iyaa,
gue tau kok! Kita pasti menang”.Ucap Dion dengan enteng.
“Eh
iya di deket taman Veros ada cewek cakep namanya Via, kayanya sih gue baru liat
dia di daerah situ”. Sambung Dion yang sedikit curhat.
“Ciri-cirinya
gimana sob?”. Tanya Raka
“Putih,
agak tinggi, cakep,matanya pake lensa warna coklat, trus rambutnya panjang lurus”.
Jelas Dion panjang lebar.
“Oooohhhhhhhhhh,
gatau bro,wahahahah”. Ucap ricky ngeledek
“Ah
cumi, gue kira lo tau”.
“Loh
cewek aneh itu, matanya, rambutnya ……. Sedikit mirip sama Via”. Ucap Dion yang
tiba-tiba melihat putri yang lewat didepannya.
“Kenapa
sob?”.
“Ah
engga kok”.
Krriiiinnngggggg, krriiinnngggggg,
kkrrriiiinnnngggg (Bel Masuk)
“Udah
bel, ayo masuk bro.” Ucap Bayu
Mereka semua pun masuk kekelas
masing-masing dan memulai pelajaran dengan tenang.
Saat sepulang sekolah, Dion dan
timnya pun segera pergi ke taman Veros untuk bertanding dengan tim Reno.
Sesampainya di Taman…….
“Ayo
langsung mulai aja”. Tantang Reno.
“Okeh.”
Pertandingan antara mereka pun
dimulai,aku yang tak sengaja datang ke taman tersebut langsung melihat Dion
yang bertanding dengan Reno.Aku mencoba menyemangatinya dari dekat tapi sayang
aku tak bisa. Aku sadar aku bukan siapa-siapa baginya. Aku pun memutuskan untuk
melihat pertandingannya sampai selesai
Namun pada
akhirnya tim Dion yang kalah oleh tim Reno, Dion terlalu meremehkan lawannya,
Dion terlalu meremehkan Reno sehingga Reno pun merubah dirinya dan menjadi baik
dari yang sebelumnya. Aku melihat penyesalan yang dirasakan oleh Dion,saat
semua tim Reno pulang, aku mencoba mendekatinya. Dion hanya mengenalku sebagai
Via. Aku mendekati Dion yang sedang duduk tertunduk.
“Hay”.
Sapaku
“Kapten,
ada cewe cakep, putih, tinggi, rambutnya lurus, matanya pake lensa warna
coklat”. Ucap Ricky yang agak kaget melihatku
“Apa?
Via? Kenapa lo kesini?”, Tanya Dion.
“Gue
emang biasa kesini kan?”. Ucapku
“Oh
jadi ini cewe yang tadi lu certain bro?”. Tanya Raka
“Iya”.
“Emang
Dion cerita apa tentang gue ?”. Tanyaku.
“Bukan
apa-apa kok Vi”. Ucap Dion
“Kenapa
lo badmood gitu? Kalah tanding basket?”. Tanyaku
“Iya,
kok lu tau?”, Tanya Dion
“Makanya
jangan suka ngeremehin lawan, semakin lu remehin dan lu rendahin, semakin kuat
lawan yang lu hadepin.” Ucapku memeberi saran
“Tuh
bos dengerin tuh kata cewek ini.” Ucap Bayu
“Iya,
gue tau gue salah. Oh iya Via kenalin ini temen-temen gue”. Ucap Dion.
“Hay
gue Via”. Ucapku
“Dion yang tadinya cuek, ternyata
bisa jadi pendiem juga yah, gara-gara kalah main basket. “ Pikirku
“Kalo
kalian mau bales kekalahan kalian sama lawan lo yang tadi, latian aja yang
teratur, sebulan lagi bakal diadain pertandingan basket antar SMA, pasti semua
SMA ikut dan pasti kalian bisa tanding lagi sama tim basket yang udah ngalahin
kalian tadi, yak an?”. Ucapku sambil member info yang dipajang di madding
sekolah.
“Kok
lo bisa tau?’ Tanya Dion
“Ehm…..
di madding sekolah gue ada infonya kok”. Ucapku
“Oh
bener juga apa kata lu barusan, kalo kita punya tekad kita pasti bisa ngalahin
tim Reno itu!”. Seru Ricky
“Oke
mulai sekarang kita latian yang teratur, dan gimana kalo Via jadi manager kita?
Setuju kan?”. Ucap Dion dengan semangat.
“Ah
? gue ? jadi manager ? gue aja baru kenal sama kalian, engga, gue engga bisa.”
Ucapku yang tak yakin
“Ayolah
pleaseeee………” Ucap semuanya.
Ehm,
yau dah deh gue setuju”. Ucapku
“Bagus!
Thanks ya!”. Ucap semuanya
“Ehm
ngomong-ngomong lu sekolah dimana? Kok gue baru tau dan baru kenal smaa lo?”,
Tanya Dion.
“Ehm………
gue sekolah di ………….dimana ya? Dimana ja
boleh deh, haha”. Ucapku
Hari demi hari pun berlalu,
kedekatan ku dengan Dion pun semakin dekat, begitupun dengan teman-teman Dion
satu tim.Dion juga tau no handphoneku. Tetapi hari demi hari itu pula aku
semakin merasa tak enak karna sudah membohongi Dion, Dion cuma tau kalau aku
ini bernama Via yang matanya memakai lensa coklat . Aku ingin mengatakan yang
sebenarnya tetapi apa aku bisa ? Aku tak ingin bila ku katakan yang sebenarnya
Dion menjauhiku dan membenciku tapi aku ingin mengatakannya. Tuhan berilah
petunjuk-Mu agar semuanya baik-baik saja.
Malam itu Dion mengirim SMS
kepadaku, dia begitu romantis, aku mulai berfikir bahwa dia mulai menyukaiku.
Betapa senangnya hati ini, Cuma nerima SMS dari dia pun hatiku merasa senang,
apalagi bisa dekat dengannya lebih dari seorang teman, aku berharap itu bisa
terjadi, sangat berharap.aku akan mencoba mengakui kalo aku adalah Putri,
hanya tinggal menunggu waktu yang tepat.
Esoknya disekolah…….
Dion
yang bermaksud menelpon Via saat istirahat,Putri yang lewat didepan Dion pun
tak sengaja mengangkat telp tersebut. Karena tak sadar Via alias Putri menjawab
telpnya.Dion pun heran kenapa Putri yang berbicara,Dion pun mencoba
mengikutinya.….
“Hallo?”
Ucap dion sambil memantau Putri.
“Iya
? kenapa?”. Tanya Putri.
“Ini
beneran Via?”.
“Iya
, ini gue masa lupa sih?”.
Dion pun langsung merampas handphone
Putri lalu menegeceknya. Ternyata saat Dion mencoba menelpon ulang, hape Putri
berdering dan ada tulisan “Panggilan Masuk dari Dion”.
“Elo
? Sebenernya lo siapa? Gue nelp Via kenapa hape lo yang bunyi dan ada nomer gue
di hape lo?”. Ucap dion yang emosi.
“Dion
maaf, gue…………..”
Karena
kesal Dion pun melepaskan kacamata yang ku pakai. Lalu mencopot kuncir rambut
yang kupakai.
“Via
? lo Via kan ? Tapi kenapa ? Ah gue ga ngerti , sebenernya lo Putri si cewek
cupu atau Via cewek yang gue kenal baik dan pengertian?”. Ucapan dion yang agak
membentak.
Aku yang saat itu ketauan oleh Dion
pun merasa sangat bersalah, mungkin ini waktu yang tepat untuk menjelaskan
semuanya. Aku menjelaskan semua yang terjadi slama ini, aku sangat menyesali
perbuatanku. Aku tau aku yang salah.
“Jadi
sebenernya lo itu Putri yang nyamar jadi Via? Lu tega Vi, maksud gue Putri.
Kenapa lo lakuin ini semua? Ini bukan permainan ya? Ga lucu tau. Lo egois,
slama ini gue pikir lo cewek yang lugu dan baik, tapi gue salah, lo cewek licik
yang Cuma mau mamer kecantikan wajah lo doing kan?”. Ucap Dion yang marah.
“
Dion gue engga bermaksud giniin lo, gue Cuma………gue……. Gue minta maaf sama lo “.Ucapku
yang merasa bersalah.
“Udahlah,
lu lupain aja, anggap aja gue engga kenal sama lo”. Ucap dion lalu pergi.
Aku hanya terdiam melihatnya pergi
meninggalkanku dengan rasa kecewa. Air mataku mulai jatuh membasahi pipi ini.
Aku tak tau apa yang harus ku perbuat agar dia dapat memaafkanku. I’m sorry
Dion….Dengan sangat menyesal, aku berusaha meminta maaf ke Dion dsn pasti semua
teman yang lain udah pada tau, saat ku mengikutinya aku engga sengaja mendengar
pembicaraan antar Dion dengan teman-teman satu timnya.
“Ah sial!!!”. Teriaknya.
“lo
knapa kapten?”. Tanya Ricky
“Apa
lo semua tau? Cewek yang kita kenal sebagai manager kita itu, cewek yang kita
anggap sahabat Via itu ternyata Putri”. Ucap dion sangat marah.
“Dion
?”. Ucapku
“Nah
tuh dia orangnya, lo Tanya aja sama dia.” Ucap Dion
Akupun memperlihatkan aku yang
sebenarnya, dan mereka semua pun kaget, untungnya hanya Dion dan teman-teman
basketnya saja yang tau tentang aku. Dion mungkin sangat marah karna merasa
dibohongi oleh aku,tapi aku tak bermaksud.
3 minggu kemudian….
Pertandingan basket akan dimulai
seminggu lagi, tapi Dion masih marah padaku sudah 2 minggu aku tidak bertemu
dengannya, rasanya juga kangen sama dia,mungkin teman-teman yang lain juga
masih marah. Saat ku termenung berdiri di depan kelasku tiba-tiba saja Ricky
dan teman-teman yang lain kecuali Dion, datang menghampiriku dan berkata “Engga
apa-apa kok, kita ga marah sama lo, tenang aja, kita udah maafin lo kok manager
Via”. Ucapnya sambil tersenyum.
“Beneran? Kalian udah bisa maafin
gue ?”. Ucapku sambil tersenyum haru.
“Iya,
tapi Dion belom bisa maafin lo, tapi tenang aja kita bakal bantuin lo kok”.
Ucap Bayu sambil tersenyum.
Entah apa tapi sepertinya hari ini hari
keberuntungan yang ku dapatkan, terima kasih Tuhan.Semua teman-teman Dion
membantuku mereka menyusun sebuah rencana agar aku bisa baikan dengan Dion,
mereka semua teman yang baik, aku merasa sangat menyesal.
Tiga hari sebelum pertandingan,
Ricky menyuruhku untuk datang ke Taman Veros untuk bertemu dengan Dion.Sebenernya
aku belum siap tapi aku ingin dimaafkan olehnya. Sesampainya di Taman, aku
melihat Dion yang duduk terdiam sambil mendribble bola basketnya.
“Dion?
Ehm gue mau……”
“Udah
sini duduk dulu”.
“Gue
minta maaf sama lo, pliss maafin gue, gue bener-bener nyesel ngelakuin itu sama
lo. Gue bener-bener minta maaf sama lo, Dion gue……………….”
“Lo
bisa diem ga?”.
“Tapi
gue ………….
“Gue
udah maafin lo kok, tenang aja”. Jawab Dion singkat
“Maaf banget, gue udah boongin lo”. Ucapku sambil
mulai menangis.
“Kenapa
nangis? Ngerasa bersalah?”.
“Iya”.
“Bagus
deh, yau dah lah jangan nangis, walaupun gue marah banget sama lo juga , gue
tetep ga bisa jauh-jauh dari lo”.
“Maksud
lo?”. Ucapku sambil mengusap air mata
“Gue
sayang sama lo”. Ucap Dion tiba-tiba
“Ha
? apa ? lo bercanda nih pasti, biar gue engga nangis ya kan ?”. Ucapku yang tak
percaya
“Gue
Sayang sama lo!!! Kurang jelas juga ?”. Ucap Dion sambil teriak
“Cieee
yang sayang sama gue, hahah gue sayang lo juga”. Ucapku sambil ngeledek.
“Lo
kok kalo nangis jelek sih? ahahaha”. Ucap Dion yang ngeledek
“Biarin
aja, jelek-jelek gini juga lo naksir ya kan? hehehe” Ucapku
Semenjak saat itu kita berdua udah
jadian lohhh, heheh senangnyaaaaaaa.Mungkin hadiah yang Tuhan beri untukku
karena kesabaranku. Dan semenjak itu juga, aku mengubah penampilanku jadi cewek
biasa yang engga cupu dan aneh lagi.
Saat Pertandingan di mulai. Dion pun
dan timnya bersemangat untuk menghadapi tim basket lainnya, mereka bersaing
dengan lawan lainnya. Dan tiba saat-saat mereka bertanding dengan SMA 25 yaitu
timnya Reno.
“Ini
kesempatan kalian, engga mau kalah lagi kan ?”. Ucapku
“Engga
akan kalah lagi!”. Ucap Dion
“Kita
pasti bisa!”. Ucap Ricky
“Semangat!!!”.
Ucap semuanya.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah
mereka yang begitu bersemangat. Hingga pada akhirnya Tim Dion pun menang dengan
score 25 – 22 .Mereka pun tertawa riang menikmati kemenangan yang mereka dapat,
aku ikut senang melihat yang lain senang.
Aku dan teman-teman Dion pun menjadi
sahabat dan Dion adalah orang yang berpengaruh dalam perjalanan hidup yang ku
jalani di luar rumah, di tempat dimana banyak orang-orang yang belum bisa
mengerti apa itu arti “Kasih Sayang”.
TAMAT
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)



