Jumat, 16 Maret 2012

My Destiny


“My Destiny”
            Ketika’ CINTA’ itu datang, ia membawa kebahagiaan atau akhirnya hanya meninggalkan luka dan kenangan dihati ?.
Aku baru duduk di kelas sebelas SMA tepatnya SMA Kartika,aku ini hanya pelajar biasa yang kerjaannya chatting, facebookkan, twitteran dan yang lainnya. Kenalin namaku ‘Decha Adelia Reva’. Panggil aja Decha atau Chacha. Aku mempunyai teman yang sangat dekat, ya hanya ‘teman dekat’ namanya ‘Vino Rebastian Putra’. Aku seringkali menemaninya disaat dia sedang ada masalah atau main dengannya. Tanpa sadar mulai ada rasa itu, suatu perasaan yang sangat membingungkan, sulit untuk diungkapkan. Apa mungkin ini CINTA lagi ?.
Siang itu sepulang sekolah…..
“Cha, nanti jalan yuk?”.Ajak Vino.
“Kemana?”.Cetusku.
“Suatu tempat”.Ucapnya
“Dimana ?”. Tanyaku penasaran
“Udah ikut aja”. Ucapnya sambil mengusap kepalaku.
            Pukul 19.00 WIB, Vino menjemputku, seperti biasa dia selalu mengajakku ketempat-tempat yang belum aku kunjungi dan yah terkadang dia mengajakku untuk bermain Playstation bersama, atau membahas tentang masalahnya dan kadang ngegosip gitu deh, hehe.
            Klakson motornya yang beirisik menandakan kalau dia sudah datang menjemputku, Aku segera pamit ke orang tua ku, orang tua ku dan orang tua Vino pun sudah saling mengenal.
“Kita mau kemana sih?”. Tanyaku
“Udah naik aja dulu, bawel banget si”. Cetusnya
Aku pun naik ke motornya Vino dan  seperti biasa Vino keliatan keren yah, memakai celana jins hitam, sweater Putih yang bertuliskan Crawling didepannya. Vino membawaku kesuatu tempat dimana yang jaraknya cukup jauh dari rumahku, menuju suatu perumahan dan sampai akhirnya kami pun berhenti disuatu tempat. Tempat itu sunyi dan sepi, yang ada hanyalah pemandangan kota Jakarta yang padat, namun saat malam hari tiba, Jakarta menjadi lebih indah dengan lampu-lampu disetiap gedung dan jalannya, terlihat seperti miniature.
“Gimana bagus kan?”. Tanyanya tiba-tiba.
“Iya bagus, bagus banget”. Ucapku.
Lalu aku memejamkan mata dan menghirup udara malam yang sejuk ini mencoba merasakan hembusan angin yang lewat digenggaman kedua tanganku.
Vino pun duduk dan memegang kedua kakinya yang terlekuk, ia melihat kearah langit dan memejamkan matanya. Rambutnya yang tertiup semilir angin udara malam. Aku hanya tersenyum melihatnya, terasa sangat tenang. Sudah satu tahun aku mengenalnya, sesosok makhluk ciptaan-Nya yang memikat hatiku. Terfikir dalam benakku, dapatkah aku memiliknya?, menjadi setengah bagian dari hidupku ?
Disekolah, aku hanya bisa melihatnya dan mengawasi tingkahnya dari jauh, melihat dia bermain dengan temannya atau terkadang dia hanya berdiri di depan kelas dan diam. Kalau dia tak  masuk sekolah, rasanya sekolah itu jadi sepi.
 Malam semakin larut. Vino mengajakku untuk kembali kerumah, sesampainya dirumah, dia langsung pamit karena takut kemalaman. Dia hanyalah teman dekat bukan sahabat. Apa pantas aku berharap lebih darinya?.
      *          *          *          *          *
            Hari demi hari berlalu, aku masih menjalani aktifitas keseharianku seperti biasa, termasuk melihat dia, menjadi “Pengagum rahasianya yang tak pernah dia tau”.
Saat disekolah…………
“Hey, sendirian aja?. Sapa temanku Lisa yang tiba-tiba mengagetkanku.
“Hehe, iya nih”. Ucapku singkat.
“Oiya denger-denger si Vino anak 11C itu suka sama Viska yah?. Ucapnya.
Mendengar itu pun aku langsung kaget, aku hanya terdiam, rasanya itu sebuah surprise yang buruk buatku.
“Ah, iya apa?” Cetusku tak percaya.
“Iya, kalo engga percaya, Tanya aja sendiri”.Sarannya.
“Oke deh sip kalo gitu”.
            Aku langsung masuk ke kelas, rasanya aku ingin menyendiri saja. Entah kenapa mendengar  perkataan Lisa tadi, hati ini menjadi sesak, emosi, ingin rasanya aku marah tapi itu tidak akan membuatku tenang. Pelajaran pun dimulai, guru pun sudah masuk ke kelasku, tapi aku masih memikirkannnya, tiba-tiba aku jadi malas untuk belajar, semangatku hilang. Tapi coba positif Thinking dulu aja kali yah.
            Saat istirahat, aku pun bertanya ke Vino apa yang di bilang Lisa tadi itu benar?. Saat ku Tanya ternyata itu benar, Vino hanya berkata “Jangan bilang siapa-siapa dulu yah? Ini rahasia kita”. Aku pun pura-pura tersenyum menahan rasa pedih ini.
3 hari kemudian………….
            Aku mendengar kabar kalau Vino udah jadian sama Viska. Semakin hari Vino terlihat sering jalan berdua dengan Viska. Aku selalu mendengarkan ceritanya, walaupun yang ia ceritakan hanya tentang Viska.
            Saat istirahat disekolah……….
“Viska itu cantik yah ?”. Tanya Vino tiba-tiba.
“Iya kali, gue engga tau”.
“Ih kok jawabnya jutek gitu?”.
“engga kok , engga apa-apa”.
“Lo cemburu ya ? cieeeeeee”.
“Ih pede banget deh lu, Viska itu bukan yang terbaik buat lo Vin, dia kan sukanya sama Bagas ”.
“Iya sih , tapi kan sekarang dia udah jadi milik gue Cha.”
“Iya-Iya , terserah apa kata lo”.
            Saat pulang sekolah aku pun pergi ke sebuah taman yang sering aku kunjungi bersama Vino tiap kali lagi bosen di rumah, aku selalu mengingat saat-saat kejadian dimana aku selalu bersamanya. Ingin aku melupakannya, tapi apa aku bisa? Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan , aku hanya bisa menunggu dan menunggu. Kalau kata orang-orang jaman sekarang sih, penyakit yang aku derita ini disebut ‘Galau’.
            Sampai kapankah rasa dihatiku, menanti rasamu akan menyambut rasaku? Dan mungkin bila waktu yang bisa mengungkapkan perasaan cinta yang lama tersimpan di hati.
“Assalamu’alaikum ?”. jawabku saat masuk ke rumah.
“Wa’alaikumsalam”. Ucap mamahku
Aku pun langsung masuk ke kamar dan ingin menyendiri.
“Loh, kamu engga makan dulu Cha ?.” Tanya mamah.
“Chacha udah kenyang’. Ucapku
                  *          *          *          *          *
            2 minggu kemudian………..
            Waktu itu adalah hari sabtu, aku lupa karena belum mencatat rumus-rumus fisika, kebetulan rumah Vino tidak jauh dari rumahku. Aku pun memutuskan untuk ke rumah Vino. Sesampainya disana Vino keliatan aneh, seperti males-malesan, terlalu diam, bahkan dia tidak ngomong sepatah katapun kepadaku, hanya duduk diam sambil memutar-mutar Handphonnya, mungkin dia lagi ada masalah.
“Vin, gue pinjem buku catetan fisika lu dong”.
(Vino hanya mengambil buku catetannya dan kembali duduk terdiam)
“Rumah lo sepi,engga ada siapa-siapa, nyokap lo kemana ?”.
“Arisan”.
“Pembantu lo?”.
“Lagi keluar sebentar”.
“Lo kenapa si? Dari tadi gue Tanya kok cuek banget, lagi ada masalah ya ? ceritalah sama gue.”
“Brisik lo!!! Lo mau tau gue kenapa ?”. Ucap Vino yang tiba-tiba membentakku
“Lo kok bentak gue sih ? gue kan nanya baik-baik Vin!”.
            Vino hanya terdiam.
“Lo kenapa si Vin ?” Tanya ku lagi.
“Gue putus Cha sama Viska, bener apa kata lo, dia itu bukan yang terbaik buat gue dan dia Cuma suka sama bagas”.
“Sabar Vin, lo harus tenangin diri lo dulu, semuanya pasti baik-baik aja kok. Gue ngerti kok perasaan lo sekarang.” Ucapku sambil tersenyum.
“Thanks cha”. Ucapnya sambil menghela nafas.
“Lebih baik dicintai kan dari pada mencintai?”. Ketusku sok menasehati
“Ih kok lu jadi sok dewasa gitu sih ?”. Ucapnya sambil mencubit hidungku.
“Yeehhhh emang bener kan ?”. Ledekku
“Iya sih, bener juga”. Vino kembali terdiam lalu tersenyum”.
            Lalu aku pun pamit pulang, dijalan aku hanya bingung karena masih mengingat kejadian tadi, lucu juga sih kalau liat Vino ngambek, hehe. Sesampainya dirumah aku mendapat sms dari Vino , katanya “Makasi ya buat sarannya J”. Aku yang membaca smsnya pun jadi senyum-senyum sendiri.
 Tapi rasanya tau si dia single  itu kaya ngebelah atmosfir berlapis-lapis, meluncur bareng paus akrobatis, menuju rasi bintang paaaaaaaling manis. Iklan Good Day kali ya, haha.
            Hari ini hari libur sekolah, hari dimana ga ada guru, pulpen , penghapus , pensil dan alat tulis lainnya. Pagi itu aku bangun pukul 10.00 WIB, maklum libur jadi bangunnya siang, hehe. Bangun tidur benda yang pertama kali aku cari adalah Handphone, rasanya kalau engga ada benda yang satu ini tuh jadi enggak seru. Saat aku buka facebook ada permintaan pertemanan namanya “Denis Raditya”, dia sekolah di SMA Pradana kelas XI sama sepertiku. Tiba-tiba dia menyapaku lewat chatting.
“Hay”. Katanya
“Hay juga”. Balasku.
“Thanks for confirm ya?”.
“Iya sama-sama”.
“Lo temennya Vino Rebastian bukan ?”.
“Iya , kok lo tau?”.
“Gue temen SDnya”.
“ouh gitu”.
            Dia terus saja menanyakan tentangku, aku hanya senyum-senyum sendiri membaca balasan darinya, sepertinya dia menarik, penampilannya juga lumayan, tapi tetap saja orang yang kusuka itu cuma Vino, yah mungkin cuma dia. Tapi ini kesempatan bagus untukku, aku bisa menanyakan apapun tentang Vino, dia juga menanyakan alamat rumahku, katanya kapan-kapan dia mau main kerumah.Dia juga minta no Hp ku jadi aku kasih aja deh.
            3 Jam kemudian pukul 15.00 WIB
“Cha ?”. teriak mama.
“Iya mah?”
“Sini deh”.
“Ngapain ?”.
“sini dulu sebentar”.
“Engga mau ah males “. Ucapku sambil mengambil secangkir jus jeruk lalu meminumnya.
“Ada Vino loh dibawah……”.
Bruuusssssssss !!! “uhuk uhuk , keselek”.
“Kamu kenapa ?”. Tanya mamah yang tiba-tiba masuk ke kamarku.
“Uhuk , uhuk, uhuk ,uhuk, (masih keselek)”.
“Ada Vino tuh dia nyariin kamu, ayo cepet kebawah ditunggu Vino loh”.
“Iya mah”.
            Bajuku setengah basah gara-gara kesembur, mama nih bikin kaget aja. Aku pun langsung ganti baju dan keluar kamar, aku melihat dua orang cowok, yang satu Vino tapi yang satunya lagi …….
“Hay Cha”.
“Hay Vin, ngapain kesini ? tumben”.
“Engga, mau main aja, oiya kenalin ini temen gue namanya Dennis.”
“Ha ???”. Kaget banget.
“Dennis raditya ?”. Tanyaku kaget
“Iya yang tadi chatting. Masa lupa sih”. Ketusnya
“Yau dah kita lanjutin ngobrolnya ditaman belakang aja ya ?”. Seruku
            Sesampainya di taman belakang, aku duduk dibawah pohon yang rindang. Vino dan Dennis pun ikut duduk disampingku. Lalu Dennis mulai angkat bicara, ngobrol-ngobrol gitu deh. Kita juga bercanda bareng.
*          *          *          *          *
            2 minggu kemudian, tak terasa memasuki bulan baru, bulan Mei, Semakin lama Dennis mulai dekat denganku dan dia sudah menyatakan perasaannya kepadaku namun entah kenapa aku tak bisa menerimanya. Mungkin Dennis merasa kecewa tapi maaf hati tak bisa dipaksakan.
            Mendengar Dennis yang menyatakan perasaannya, Vino pun langsung memarahiku, dia bilang aku tak boleh lagi berteman dengannya, entah apa yang terjadi pada mereka berdua.
Saat di taman belakang sekolah…….
“Lo ada masalah sama Dennis ?”.
“Engga”.
“Kenapa lo ngelarang gue buat temenan sama dia ?”.
“Engga kenapa-napa kok”.
“Berarti gue boleh dong deket sama dia”. Cetusku lalu pergi
“Gak!!!! Gue bilang engga ya engga”.
“Lo kenapa sih Vin ? jangan bentak gue!”.
“Gue suka sama lo Cha!”.
“Hah ?” Ucapku kaget.
“Gue sadar selama ini cewe yang gue suka itu elo bukan Viska, mungkin Viska Cuma mainin gue doang, tapi lo engga, lo beda. Lo satu-satunya orang yang mencintai gue dengan sepenuh hati lo dan gue tau itu”.
“Kenapa lo bisa tau perasaan gue ?”, Ketusku lalu terdiam
“Karena gue sayang sama lo, lo mau gak jadi cewek gue ?”.
Sejenak aku memikirkan perkataan Vino, aku fikir ini hanya candaan, tapi kenapa sorot matanya serius ?. aku pun menjawabnya “Dengan senang hati”.
            Sejak saat itu tanggal 11.05.11, aku resmi menjadi pacar VinoJ . perasaan senang yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata dan yang pasti tak bisa digantikan dengan hadiah apapun. Malam itu Vino datang ke rumahku, dia berjanji akan mengajariku pelajaran fisika, mama pun menyambutnya dengan senyum.
Vino pun duduk dan mulai membuka buku. Kami pun mulai belajar, tapi konsentrasiku malah buyar gara-gara terfokus liat kearah Vino terus. Saking sukanya lagi ngapain aja tuh tetep aja keren, tiba-tiba aku membayangkan Vino memakai baju ballet warna pink yang ada sayap kupu-kupunya, wahahahahahah.
Brrrruuuuuaaaakkkk!!! (Vino yang tiba-tiba menggebrak meja belajar dan mengagetkanku)
“Kok lo bengong sih ?”. tanya Vino
“Ah gue…………….gue, hahahahah”.
“Kok malah ketawa sih ?“.
“Gue ngebayangin lo lagi pake baju ballet kupu-kupu warna pink yang ada sayapnya , wakakakakakak”.
“Tapi tetep ganteng kan?”.
“Sama sekali engga, wakakak”.
“terus aja terus”.
“Aduh sakit perut”. Ledekku
“Puas ngetawain gue ?”. Ucap Vino yang agak kesal
“Yau dah, lanjut lagi dah belajarnya”.
            Kami pun belajar kembali dengan serius, lama kelamaan aku mengerti tentang fisika, ternyata fisika itu asik.
                  *          *          *          *          *
            1 Bulan kemudian, tanggal 11 Juni 2011, hari jadiku yang pertama.
            Pagi itu saat sampai disekolah aku melihat seperti ada bingkisan di kolong mejaku. Saat ku lihat ternyata itu sebuah boneka beruang yang dilehernya tertulis 11 Mei 2011. Senang sekali rasanya aku hanya tertawa kecil membaca tulisan itu, kulihat ada secarik kertas yang didalamnya tertulis : “Happy anniversary Decha with me yang ke 1 bulan , semoga kita slalu bersama”
            Membaca suratnya pun aku senyam-seyum sendiri dan aku langsung memeluk erat boneka itu. Tiba-tiba Vino datang ke kelas ku lalu berdiri disampingku dan berkata : “Gimana suka sama bonekanya ?”.
“Suka banget”. Ucapku sambil tersenyum lebar.
            Bel pun berbunyi saatnya belajar, Vino pun kembali ke kelasnya hari ini aku belajar dengan semangat.
Saat pulang sekolah…..
            Aku dan Vino pulang bareng, jalan berdua melewati perumahan komplek yang rindang. Tiba-tiba Dennis lewat, dia hanya menatapku, sepertinya dia baru pulang sekolah. Vino pun terdiam dan langkah kami pun terhenti.
“Happy anniv buat kalian berdua”. Ucap Dennis tiba-tiba
Kami pun terdiam lalu Vino pun berkata “Thanks bro”. sambil tersenyum.
            Lalu aku dan Vino pamit untuk pulang. Dennis pun demikian. Sesampainya dirumah , aku mendengarkan lagu Avenged Sevenfold yang berjudul “Warmness On The Soul” lagu yang saat ini mewakili perasaanku.
“I never feel alone again with you by my side”
“You’re the one”
“And in you I confide”
“I give my heart to you….”
“I give my heart , cause nothing can compare in this world to you”
Esoknya disekolah…..
Saat disekolah sebelum bel masuk, aku melihat Vino lagi berdua sama Viska di lab Ipa. Melihat itu rasanya aku jadi cemburu, aku tak tau apa yang mereka lakukan disana, fikiran negative pun mulai memenuhi pikiranku.Tiba-tiba rasanya sesak. Aku mencoba menahan tangis, berusaha menenangkan diri.
Saat istirahat dia ingin ke kantin bersamaku seperti biasa, tapi aku menolaknya, aku bilang aku ada janji mau ke perpus bersama temanku Kirana. Entah apa dengan perasaanku ini tapi aku tak ingin bertemu dengannya untuk sementara.
Saat pulang sekolah, dia menugguku di depan gerbang sekolah, aku berusaha menghindar darinya namun Vino mengejarku dan berkata “Lo kenapa si, dari tadi ngindar mulu sama gue ?”. Ucapnya.
“Lo tuh yang kenapa, pagi-pagi udah mesra-mesraan sama Viska !”.
“Hah ? Viska ? oh yang tadi pagi, kamu liat ya ?”.
“Liatlah jelas banget! Udah ah gue mau pulang”.
“Eh tunggu dulu, jangan marah lah, Viska itu cuma ngobrol biasa kok sama aku”.
“Ngobrol biasa kok di lab Ipa ? aneh”.
“Gue jujur nih, tadi itu Viska ngajak balikan tapi gue tolak, gue bilang gue udah punya lo”.
“Oh ya ? boong kali”.
“Gue serius Cha! Lo cemburu yah ? maaf”.
Aku pun terdiam, Vino udah minta maaf, aku tak tega melihatnya, jadi ku putuskan untuk mempercayainya walau aku masih kesal dengannya.
“Yau dah iya, gue maafin”.
“Makasih ya cha, udah mau percaya sama gue, gue sayang lo”. Ucapnya dengan senyuman
“Iya gua juga saying lo”.
            Bulan demi bulan pun berlalu, hari demi hari pun sudah terlewati, tak terasa aku dan Vino sudah menjalani hubungan ini kurang lebih selama setengah tahun. Tapi 2 minggu terakhir ini banyak perubahan yang ku alami seiring dengan waktu. Vino yang ku kenal dulu sekarang menjadi Vino yang tak ku kenal, sifatnya berubah, sekarang dia menjadi cuek, entah apa yang dia pikirkan, mungkin dia bosan? Ahhhh mikir apa sih aku ini ?
            Aku berusaha mencari tau apa yang terjadi, apa sebab Vino berubah, walaupun kita masih sering komunikasi tapi rasanya aneh, aku pun berusaha positif thinking, berharap kejadian buruk tak akan terjadi. Hari demi hari Vino semakin aneh , mendadak tak ada komunikasi darinya. Sampai saatnya Vino sms ku “Cha, hari ini kita ketemuan yah, di taman biasa jam 2 siang”.
            Pukul 2 tepat aku sampai disana aku melihat Vino duduk menunggu. Vino tersenyum melihatku, lalu dia menggenggam erat kedua tanganku.
“Cha, aku ga kuat ngomong langsung sama lo, tapi gue harus bilang ini”.
“Lo mau ngomong apa?”. Tanyaku penasaran.
“Gue rasa………. (tiba-tiba hening)
“Gue rasa hubungan kita cukup sampai disini”. Ucapnya yang membuatku sesak
“Apa ? lo bercanda kan Vin ?”. Ucapku menahan tangis
“Gue rasa kita udah gak cocok”. Ucap Vino yang membuatku semakin sesak.
“Tapi apa alesannya? Apa gue pernah buat kesalahn sam lo ya ? kalo pernah gue minta maaf Vin, maafin gue ya”. Ucapku sambil menangis
“Bukan! Ini bukan salah lo. Tapi gue rasa kita cukup smapai disini aja yah?”.
“Tapi kita udah jalanin ini semua sama-sama, trus tiba-tiba lo ninggalin gue gitu aja? Tanpa mikir gimana perasaan gue ? pliss Vin coba ngertiin gue.”
Tiba-tiba Vino pun menyanyikan sebuah lagu untuk ku dan menghusap air mataku.
“When I see your face”
“There’s not a think that I would change”
“Cause you’re amazing”
“Just the way you are”
Lalu Vino tersenyum lagi dan berkata “Jangan nangis, lo bisa kok tanpa gue, maaf banget ya udah buat lo sampe kaya gini, gue gak bermaksud tapi ada alesan lain yang buat gue kaya gini, makasih untuk semuanya, jaga boneka beruang itu baik-baik ya? I love you”. Ucap Vino lalu meninggalkan ku pergi begitu saja.
            Aku pulang ke rumah, mengunci diri dikamar, meratapi kesedihan ini,terasa dapat mimpi yang buruk. Aku melihat boneka pemberian Vino lalu mengingat semua kenangan dimana dulu dia dan aku selalu bercanda bersama, tertawa bersama , semuanya selalu ku ingat.
            Aku memejamkan mata dan menahan rasa sesak ku ini, air mata ini terus mengalir. Sekarang Vino jadi begitu jauh, sulit untuk mendekatinya seperti dulu.
            “I have so much to say but you’re so far away”
“Maybe that’s my destiny”





TAMAT