“My Destiny”
Ketika’ CINTA’ itu datang, ia
membawa kebahagiaan atau akhirnya hanya meninggalkan luka dan kenangan dihati ?.
Aku baru duduk
di kelas sebelas SMA tepatnya SMA Kartika,aku ini hanya pelajar biasa yang
kerjaannya chatting, facebookkan, twitteran dan yang lainnya. Kenalin namaku
‘Decha Adelia Reva’. Panggil aja Decha atau Chacha. Aku mempunyai teman yang
sangat dekat, ya hanya ‘teman dekat’ namanya ‘Vino Rebastian Putra’. Aku
seringkali menemaninya disaat dia sedang ada masalah atau main dengannya. Tanpa
sadar mulai ada rasa itu, suatu perasaan yang sangat membingungkan, sulit untuk
diungkapkan. Apa mungkin ini CINTA lagi ?.
Siang itu
sepulang sekolah…..
“Cha,
nanti jalan yuk?”.Ajak Vino.
“Kemana?”.Cetusku.
“Suatu
tempat”.Ucapnya
“Dimana
?”. Tanyaku penasaran
“Udah
ikut aja”. Ucapnya sambil mengusap kepalaku.
Pukul 19.00 WIB, Vino menjemputku,
seperti biasa dia selalu mengajakku ketempat-tempat yang belum aku kunjungi dan
yah terkadang dia mengajakku untuk bermain Playstation bersama, atau membahas
tentang masalahnya dan kadang ngegosip gitu deh, hehe.
Klakson motornya yang beirisik
menandakan kalau dia sudah datang menjemputku, Aku segera pamit ke orang tua ku,
orang tua ku dan orang tua Vino pun sudah saling mengenal.
“Kita
mau kemana sih?”. Tanyaku
“Udah
naik aja dulu, bawel banget si”. Cetusnya
Aku pun naik ke
motornya Vino dan seperti biasa Vino
keliatan keren yah, memakai celana jins hitam, sweater Putih yang bertuliskan
Crawling didepannya. Vino membawaku kesuatu tempat dimana yang jaraknya cukup
jauh dari rumahku, menuju suatu perumahan dan sampai akhirnya kami pun berhenti
disuatu tempat. Tempat itu sunyi dan sepi, yang ada hanyalah pemandangan kota
Jakarta yang padat, namun saat malam hari tiba, Jakarta menjadi lebih indah
dengan lampu-lampu disetiap gedung dan jalannya, terlihat seperti miniature.
“Gimana
bagus kan?”. Tanyanya tiba-tiba.
“Iya
bagus, bagus banget”. Ucapku.
Lalu aku
memejamkan mata dan menghirup udara malam yang sejuk ini mencoba merasakan
hembusan angin yang lewat digenggaman kedua tanganku.
Vino pun duduk
dan memegang kedua kakinya yang terlekuk, ia melihat kearah langit dan memejamkan
matanya. Rambutnya yang tertiup semilir angin udara malam. Aku hanya tersenyum
melihatnya, terasa sangat tenang. Sudah satu tahun aku mengenalnya, sesosok
makhluk ciptaan-Nya yang memikat hatiku. Terfikir dalam benakku, dapatkah aku
memiliknya?, menjadi setengah bagian dari hidupku ?
Disekolah, aku
hanya bisa melihatnya dan mengawasi tingkahnya dari jauh, melihat dia bermain
dengan temannya atau terkadang dia hanya berdiri di depan kelas dan diam. Kalau
dia tak masuk sekolah, rasanya sekolah
itu jadi sepi.
Malam semakin larut. Vino mengajakku untuk
kembali kerumah, sesampainya dirumah, dia langsung pamit karena takut kemalaman.
Dia hanyalah teman dekat bukan sahabat. Apa pantas aku berharap lebih darinya?.
* * * * *
Hari demi hari berlalu, aku masih
menjalani aktifitas keseharianku seperti biasa, termasuk melihat dia, menjadi
“Pengagum rahasianya yang tak pernah dia tau”.
Saat
disekolah…………
“Hey,
sendirian aja?. Sapa temanku Lisa yang tiba-tiba mengagetkanku.
“Hehe,
iya nih”. Ucapku singkat.
“Oiya
denger-denger si Vino anak 11C itu suka sama Viska yah?. Ucapnya.
Mendengar itu
pun aku langsung kaget, aku hanya terdiam, rasanya itu sebuah surprise yang
buruk buatku.
“Ah,
iya apa?” Cetusku tak percaya.
“Iya,
kalo engga percaya, Tanya aja sendiri”.Sarannya.
“Oke
deh sip kalo gitu”.
Aku langsung masuk ke kelas, rasanya
aku ingin menyendiri saja. Entah kenapa mendengar perkataan Lisa tadi, hati ini menjadi sesak,
emosi, ingin rasanya aku marah tapi itu tidak akan membuatku tenang. Pelajaran
pun dimulai, guru pun sudah masuk ke kelasku, tapi aku masih memikirkannnya,
tiba-tiba aku jadi malas untuk belajar, semangatku hilang. Tapi coba positif
Thinking dulu aja kali yah.
Saat istirahat, aku pun bertanya ke
Vino apa yang di bilang Lisa tadi itu benar?. Saat ku Tanya ternyata itu benar,
Vino hanya berkata “Jangan bilang siapa-siapa dulu yah? Ini rahasia kita”. Aku
pun pura-pura tersenyum menahan rasa pedih ini.
3 hari kemudian………….
Aku mendengar kabar kalau Vino udah
jadian sama Viska. Semakin hari Vino terlihat sering jalan berdua dengan Viska.
Aku selalu mendengarkan ceritanya, walaupun yang ia ceritakan hanya tentang
Viska.
Saat istirahat disekolah……….
“Viska
itu cantik yah ?”. Tanya Vino tiba-tiba.
“Iya
kali, gue engga tau”.
“Ih
kok jawabnya jutek gitu?”.
“engga
kok , engga apa-apa”.
“Lo
cemburu ya ? cieeeeeee”.
“Ih
pede banget deh lu, Viska itu bukan yang terbaik buat lo Vin, dia kan sukanya
sama Bagas ”.
“Iya
sih , tapi kan sekarang dia udah jadi milik gue Cha.”
“Iya-Iya
, terserah apa kata lo”.
Saat pulang sekolah aku pun pergi ke
sebuah taman yang sering aku kunjungi bersama Vino tiap kali lagi bosen di
rumah, aku selalu mengingat saat-saat kejadian dimana aku selalu bersamanya.
Ingin aku melupakannya, tapi apa aku bisa? Aku tidak tau apa yang harus aku
lakukan , aku hanya bisa menunggu dan menunggu. Kalau kata orang-orang jaman
sekarang sih, penyakit yang aku derita ini disebut ‘Galau’.
Sampai kapankah rasa dihatiku,
menanti rasamu akan menyambut rasaku? Dan mungkin bila waktu yang bisa
mengungkapkan perasaan cinta yang lama tersimpan di hati.
“Assalamu’alaikum
?”. jawabku saat masuk ke rumah.
“Wa’alaikumsalam”.
Ucap mamahku
Aku
pun langsung masuk ke kamar dan ingin menyendiri.
“Loh,
kamu engga makan dulu Cha ?.” Tanya mamah.
“Chacha
udah kenyang’. Ucapku
* * * * *
2 minggu kemudian………..
Waktu itu adalah hari sabtu, aku
lupa karena belum mencatat rumus-rumus fisika, kebetulan rumah Vino tidak jauh
dari rumahku. Aku pun memutuskan untuk ke rumah Vino. Sesampainya disana Vino
keliatan aneh, seperti males-malesan, terlalu diam, bahkan dia tidak ngomong
sepatah katapun kepadaku, hanya duduk diam sambil memutar-mutar Handphonnya,
mungkin dia lagi ada masalah.
“Vin,
gue pinjem buku catetan fisika lu dong”.
(Vino
hanya mengambil buku catetannya dan kembali duduk terdiam)
“Rumah
lo sepi,engga ada siapa-siapa, nyokap lo kemana ?”.
“Arisan”.
“Pembantu
lo?”.
“Lagi
keluar sebentar”.
“Lo
kenapa si? Dari tadi gue Tanya kok cuek banget, lagi ada masalah ya ? ceritalah
sama gue.”
“Brisik
lo!!! Lo mau tau gue kenapa ?”. Ucap Vino yang tiba-tiba membentakku
“Lo
kok bentak gue sih ? gue kan nanya baik-baik Vin!”.
Vino hanya terdiam.
“Lo
kenapa si Vin ?” Tanya ku lagi.
“Gue
putus Cha sama Viska, bener apa kata lo, dia itu bukan yang terbaik buat gue
dan dia Cuma suka sama bagas”.
“Sabar
Vin, lo harus tenangin diri lo dulu, semuanya pasti baik-baik aja kok. Gue ngerti
kok perasaan lo sekarang.” Ucapku sambil tersenyum.
“Thanks
cha”. Ucapnya sambil menghela nafas.
“Lebih
baik dicintai kan dari pada mencintai?”. Ketusku sok menasehati
“Ih
kok lu jadi sok dewasa gitu sih ?”. Ucapnya sambil mencubit hidungku.
“Yeehhhh
emang bener kan ?”. Ledekku
“Iya
sih, bener juga”. Vino kembali terdiam lalu tersenyum”.
Lalu aku pun pamit pulang, dijalan
aku hanya bingung karena masih mengingat kejadian tadi, lucu juga sih kalau
liat Vino ngambek, hehe. Sesampainya dirumah aku mendapat sms dari Vino ,
katanya “Makasi ya buat sarannya J”. Aku yang membaca smsnya pun jadi senyum-senyum
sendiri.
Tapi rasanya tau si dia single itu kaya ngebelah atmosfir berlapis-lapis,
meluncur bareng paus akrobatis, menuju rasi bintang paaaaaaaling manis. Iklan
Good Day kali ya, haha.
Hari ini hari libur sekolah, hari
dimana ga ada guru, pulpen , penghapus , pensil dan alat tulis lainnya. Pagi
itu aku bangun pukul 10.00 WIB, maklum libur jadi bangunnya siang, hehe. Bangun
tidur benda yang pertama kali aku cari adalah Handphone, rasanya kalau engga
ada benda yang satu ini tuh jadi enggak seru. Saat aku buka facebook ada
permintaan pertemanan namanya “Denis Raditya”, dia sekolah di SMA Pradana kelas
XI sama sepertiku. Tiba-tiba dia menyapaku lewat chatting.
“Hay”.
Katanya
“Hay
juga”. Balasku.
“Thanks
for confirm ya?”.
“Iya
sama-sama”.
“Lo
temennya Vino Rebastian bukan ?”.
“Iya
, kok lo tau?”.
“Gue
temen SDnya”.
“ouh
gitu”.
Dia terus saja menanyakan tentangku,
aku hanya senyum-senyum sendiri membaca balasan darinya, sepertinya dia
menarik, penampilannya juga lumayan, tapi tetap saja orang yang kusuka itu cuma
Vino, yah mungkin cuma dia. Tapi ini kesempatan bagus untukku, aku bisa
menanyakan apapun tentang Vino, dia juga menanyakan alamat rumahku, katanya
kapan-kapan dia mau main kerumah.Dia juga minta no Hp ku jadi aku kasih aja
deh.
3 Jam kemudian pukul 15.00 WIB
“Cha
?”. teriak mama.
“Iya
mah?”
“Sini
deh”.
“Ngapain
?”.
“sini
dulu sebentar”.
“Engga
mau ah males “. Ucapku sambil mengambil secangkir jus jeruk lalu meminumnya.
“Ada
Vino loh dibawah……”.
Bruuusssssssss
!!! “uhuk uhuk , keselek”.
“Kamu
kenapa ?”. Tanya mamah yang tiba-tiba masuk ke kamarku.
“Uhuk
, uhuk, uhuk ,uhuk, (masih keselek)”.
“Ada
Vino tuh dia nyariin kamu, ayo cepet kebawah ditunggu Vino loh”.
“Iya
mah”.
Bajuku setengah basah gara-gara
kesembur, mama nih bikin kaget aja. Aku pun langsung ganti baju dan keluar
kamar, aku melihat dua orang cowok, yang satu Vino tapi yang satunya lagi …….
“Hay
Cha”.
“Hay
Vin, ngapain kesini ? tumben”.
“Engga,
mau main aja, oiya kenalin ini temen gue namanya Dennis.”
“Ha
???”. Kaget banget.
“Dennis
raditya ?”. Tanyaku kaget
“Iya
yang tadi chatting. Masa lupa sih”. Ketusnya
“Yau
dah kita lanjutin ngobrolnya ditaman belakang aja ya ?”. Seruku
Sesampainya di taman belakang, aku
duduk dibawah pohon yang rindang. Vino dan Dennis pun ikut duduk disampingku.
Lalu Dennis mulai angkat bicara, ngobrol-ngobrol gitu deh. Kita juga bercanda
bareng.
* * * * *
2 minggu kemudian, tak terasa
memasuki bulan baru, bulan Mei, Semakin lama Dennis mulai dekat denganku dan
dia sudah menyatakan perasaannya kepadaku namun entah kenapa aku tak bisa
menerimanya. Mungkin Dennis merasa kecewa tapi maaf hati tak bisa dipaksakan.
Mendengar Dennis yang menyatakan
perasaannya, Vino pun langsung memarahiku, dia bilang aku tak boleh lagi
berteman dengannya, entah apa yang terjadi pada mereka berdua.
Saat
di taman belakang sekolah…….
“Lo
ada masalah sama Dennis ?”.
“Engga”.
“Kenapa
lo ngelarang gue buat temenan sama dia ?”.
“Engga
kenapa-napa kok”.
“Berarti
gue boleh dong deket sama dia”. Cetusku lalu pergi
“Gak!!!!
Gue bilang engga ya engga”.
“Lo
kenapa sih Vin ? jangan bentak gue!”.
“Gue
suka sama lo Cha!”.
“Hah
?” Ucapku kaget.
“Gue
sadar selama ini cewe yang gue suka itu elo bukan Viska, mungkin Viska Cuma
mainin gue doang, tapi lo engga, lo beda. Lo satu-satunya orang yang mencintai
gue dengan sepenuh hati lo dan gue tau itu”.
“Kenapa
lo bisa tau perasaan gue ?”, Ketusku lalu terdiam
“Karena
gue sayang sama lo, lo mau gak jadi cewek gue ?”.
Sejenak
aku memikirkan perkataan Vino, aku fikir ini hanya candaan, tapi kenapa sorot
matanya serius ?. aku pun menjawabnya “Dengan senang hati”.
Sejak saat itu tanggal 11.05.11, aku
resmi menjadi pacar VinoJ . perasaan senang yang tak dapat diungkapkan dengan
kata-kata dan yang pasti tak bisa digantikan dengan hadiah apapun. Malam itu
Vino datang ke rumahku, dia berjanji akan mengajariku pelajaran fisika, mama
pun menyambutnya dengan senyum.
Vino pun duduk
dan mulai membuka buku. Kami pun mulai belajar, tapi konsentrasiku malah buyar
gara-gara terfokus liat kearah Vino terus. Saking sukanya lagi ngapain aja tuh
tetep aja keren, tiba-tiba aku membayangkan Vino memakai baju ballet warna pink
yang ada sayap kupu-kupunya, wahahahahahah.
Brrrruuuuuaaaakkkk!!!
(Vino yang tiba-tiba menggebrak meja belajar dan mengagetkanku)
“Kok
lo bengong sih ?”. tanya Vino
“Ah
gue…………….gue, hahahahah”.
“Kok
malah ketawa sih ?“.
“Gue
ngebayangin lo lagi pake baju ballet kupu-kupu warna pink yang ada sayapnya ,
wakakakakakak”.
“Tapi
tetep ganteng kan?”.
“Sama
sekali engga, wakakak”.
“terus
aja terus”.
“Aduh
sakit perut”. Ledekku
“Puas
ngetawain gue ?”. Ucap Vino yang agak kesal
“Yau
dah, lanjut lagi dah belajarnya”.
Kami pun belajar kembali dengan
serius, lama kelamaan aku mengerti tentang fisika, ternyata fisika itu asik.
* * * * *
1 Bulan kemudian, tanggal 11 Juni
2011, hari jadiku yang pertama.
Pagi itu saat sampai disekolah aku
melihat seperti ada bingkisan di kolong mejaku. Saat ku lihat ternyata itu sebuah
boneka beruang yang dilehernya tertulis 11 Mei 2011. Senang sekali rasanya aku
hanya tertawa kecil membaca tulisan itu, kulihat ada secarik kertas yang
didalamnya tertulis : “Happy anniversary Decha with me yang ke 1 bulan , semoga
kita slalu bersama”
Membaca suratnya pun aku
senyam-seyum sendiri dan aku langsung memeluk erat boneka itu. Tiba-tiba Vino
datang ke kelas ku lalu berdiri disampingku dan berkata : “Gimana suka sama
bonekanya ?”.
“Suka
banget”. Ucapku sambil tersenyum lebar.
Bel pun berbunyi saatnya belajar,
Vino pun kembali ke kelasnya hari ini aku belajar dengan semangat.
Saat
pulang sekolah…..
Aku dan Vino pulang bareng, jalan
berdua melewati perumahan komplek yang rindang. Tiba-tiba Dennis lewat, dia
hanya menatapku, sepertinya dia baru pulang sekolah. Vino pun terdiam dan
langkah kami pun terhenti.
“Happy
anniv buat kalian berdua”. Ucap Dennis tiba-tiba
Kami
pun terdiam lalu Vino pun berkata “Thanks bro”. sambil tersenyum.
Lalu aku dan Vino pamit untuk
pulang. Dennis pun demikian. Sesampainya dirumah , aku mendengarkan lagu
Avenged Sevenfold yang berjudul “Warmness On The Soul” lagu yang saat ini
mewakili perasaanku.
“I never feel
alone again with you by my side”
“You’re the one”
“And in you I
confide”
“I give my heart
to you….”
“I give my heart
, cause nothing can compare in this world to you”
Esoknya
disekolah…..
Saat disekolah
sebelum bel masuk, aku melihat Vino lagi berdua sama Viska di lab Ipa. Melihat
itu rasanya aku jadi cemburu, aku tak tau apa yang mereka lakukan disana,
fikiran negative pun mulai memenuhi pikiranku.Tiba-tiba rasanya sesak. Aku
mencoba menahan tangis, berusaha menenangkan diri.
Saat istirahat
dia ingin ke kantin bersamaku seperti biasa, tapi aku menolaknya, aku bilang
aku ada janji mau ke perpus bersama temanku Kirana. Entah apa dengan perasaanku
ini tapi aku tak ingin bertemu dengannya untuk sementara.
Saat pulang
sekolah, dia menugguku di depan gerbang sekolah, aku berusaha menghindar
darinya namun Vino mengejarku dan berkata “Lo kenapa si, dari tadi ngindar mulu
sama gue ?”. Ucapnya.
“Lo
tuh yang kenapa, pagi-pagi udah mesra-mesraan sama Viska !”.
“Hah
? Viska ? oh yang tadi pagi, kamu liat ya ?”.
“Liatlah
jelas banget! Udah ah gue mau pulang”.
“Eh
tunggu dulu, jangan marah lah, Viska itu cuma ngobrol biasa kok sama aku”.
“Ngobrol
biasa kok di lab Ipa ? aneh”.
“Gue
jujur nih, tadi itu Viska ngajak balikan tapi gue tolak, gue bilang gue udah
punya lo”.
“Oh
ya ? boong kali”.
“Gue
serius Cha! Lo cemburu yah ? maaf”.
Aku
pun terdiam, Vino udah minta maaf, aku tak tega melihatnya, jadi ku putuskan
untuk mempercayainya walau aku masih kesal dengannya.
“Yau
dah iya, gue maafin”.
“Makasih
ya cha, udah mau percaya sama gue, gue sayang lo”. Ucapnya dengan senyuman
“Iya
gua juga saying lo”.
Bulan demi bulan pun berlalu, hari
demi hari pun sudah terlewati, tak terasa aku dan Vino sudah menjalani hubungan
ini kurang lebih selama setengah tahun. Tapi 2 minggu terakhir ini banyak
perubahan yang ku alami seiring dengan waktu. Vino yang ku kenal dulu sekarang
menjadi Vino yang tak ku kenal, sifatnya berubah, sekarang dia menjadi cuek,
entah apa yang dia pikirkan, mungkin dia bosan? Ahhhh mikir apa sih aku ini ?
Aku berusaha mencari tau apa yang
terjadi, apa sebab Vino berubah, walaupun kita masih sering komunikasi tapi
rasanya aneh, aku pun berusaha positif thinking, berharap kejadian buruk tak
akan terjadi. Hari demi hari Vino semakin aneh , mendadak tak ada komunikasi
darinya. Sampai saatnya Vino sms ku “Cha, hari ini kita ketemuan yah, di taman
biasa jam 2 siang”.
Pukul 2 tepat aku sampai disana aku
melihat Vino duduk menunggu. Vino tersenyum melihatku, lalu dia menggenggam
erat kedua tanganku.
“Cha,
aku ga kuat ngomong langsung sama lo, tapi gue harus bilang ini”.
“Lo
mau ngomong apa?”. Tanyaku penasaran.
“Gue
rasa………. (tiba-tiba hening)
“Gue
rasa hubungan kita cukup sampai disini”. Ucapnya yang membuatku sesak
“Apa
? lo bercanda kan Vin ?”. Ucapku menahan tangis
“Gue
rasa kita udah gak cocok”. Ucap Vino yang membuatku semakin sesak.
“Tapi
apa alesannya? Apa gue pernah buat kesalahn sam lo ya ? kalo pernah gue minta
maaf Vin, maafin gue ya”. Ucapku sambil menangis
“Bukan!
Ini bukan salah lo. Tapi gue rasa kita cukup smapai disini aja yah?”.
“Tapi
kita udah jalanin ini semua sama-sama, trus tiba-tiba lo ninggalin gue gitu
aja? Tanpa mikir gimana perasaan gue ? pliss Vin coba ngertiin gue.”
Tiba-tiba
Vino pun menyanyikan sebuah lagu untuk ku dan menghusap air mataku.
“When I see your
face”
“There’s not a
think that I would change”
“Cause you’re
amazing”
“Just the way
you are”
Lalu
Vino tersenyum lagi dan berkata “Jangan nangis, lo bisa kok tanpa gue, maaf
banget ya udah buat lo sampe kaya gini, gue gak bermaksud tapi ada alesan lain
yang buat gue kaya gini, makasih untuk semuanya, jaga boneka beruang itu
baik-baik ya? I love you”. Ucap Vino lalu meninggalkan ku pergi begitu saja.
Aku pulang ke rumah, mengunci diri
dikamar, meratapi kesedihan ini,terasa dapat mimpi yang buruk. Aku melihat
boneka pemberian Vino lalu mengingat semua kenangan dimana dulu dia dan aku
selalu bercanda bersama, tertawa bersama , semuanya selalu ku ingat.
Aku memejamkan mata dan menahan rasa
sesak ku ini, air mata ini terus mengalir. Sekarang Vino jadi begitu jauh,
sulit untuk mendekatinya seperti dulu.
“I have so much to say but you’re so
far away”
“Maybe that’s my
destiny”
TAMAT